Mengapa Banyak Organisasi Gagal?

by -1536 Views

Tidak sedikit organisasi yang lahir dengan semangat besar, memiliki sumber daya yang memadai, bahkan didukung oleh orang-orang berkualitas, namun akhirnya kehilangan daya hidup.Ada yang berhenti berkembang, ada yang terjebak dalam konflik internal, bahkan tidak sedikit yang akhirnya bubar. 

Persoalannya sering kali bukan kekurangan orang baik, melainkan ketidakseimbangan antara Al-Qiyadah (Leadership) dan Al-Idarah (Management).

Musthafa Masyhur dalam Al-Qiyadah wal Jundiyah mengingatkan bahwa banyak organisasi melemah karena “tidak orisinal dan tidak memiliki kemampuan bertahan” serta “disebabkan salah urus dan buruk manajemen.” 

Pengalaman ini tidak hanya terjadi dalam organisasi dakwah, tetapi juga dalam perusahaan, lembaga pendidikan, bahkan partai politik.

Kuat Kepemimpinan, Lemah Manajemen

Bentuk kegagalan pertama adalah organisasi yang dipenuhi gagasan besar, tetapi miskin eksekusi (execution). Pemimpinnya mampu membangkitkan optimisme, namun organisasi tidak memiliki sistem yang mampu mengubah visi menjadi hasil nyata.

John Adair mengingatkan, “Strategic leadership is not merely strategic planning. The difficult part is making it happen.” “Kepemimpinan strategis bukan sekadar menyusun strategi. Bagian tersulit adalah mewujudkannya.”

Larry Bossidy dan Ram Charan dalam Execution bahkan menegaskan, “Execution is the discipline of getting things done.” “Eksekusi adalah disiplin untuk menuntaskan pekerjaan.” Sebagus apa pun visi organisasi, tanpa disiplin eksekusi ia hanya akan menjadi dokumen yang indah di atas kertas.

Musthafa Masyhur juga mengingatkan bahwa tanpa perencanaan dan administrasi yang tertib, kekuatan organisasi akan melemah. Visi membutuhkan sistem agar mampu menghasilkan perubahan yang nyata.

Kuat Manajemen, Lemah Kepemimpinan

Sebaliknya, banyak organisasi sangat tertib secara administratif, tetapi kehilangan arah. Semua prosedur berjalan, laporan lengkap, rapat rutin dilaksanakan, namun inovasi menghilang dan organisasi bergerak tanpa semangat.

Musthafa Masyhur mengingatkan:

“Seorang pemimpin tidak wajar mengkonsentrasikan segenap kegiatannya dalam urusan administrasi semata… jika aspek ini dilalaikan, maka amal usahanya menjadi kerja rutin, tanpa ruh.”

John Kotter dalam Leading Change membedakan secara tegas kedua fungsi tersebut. Ia menulis, “Management is about coping with complexity. Leadership is about coping with change.” “Manajemen bertugas mengelola kompleksitas, sedangkan kepemimpinan bertugas memimpin perubahan.”

Organisasi yang hanya mengandalkan prosedur akan efisien, tetapi belum tentu relevan. Ia berjalan rapi, namun perlahan kehilangan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan.

Ketika Keduanya Sama-Sama Lemah

Kondisi paling berbahaya adalah ketika organisasi kehilangan kepemimpinan sekaligus manajemen. Tidak ada visi yang menyatukan, tidak ada sistem yang menjalankan.

John Adair menggambarkan kondisi ini dengan sangat tajam: “He staggers from one crisis to another like a drunken man.” “Ia berjalan sempoyongan dari satu krisis ke krisis berikutnya seperti orang mabuk.”

Harold Koontz dalam Essentials of Management mengingatkan, “Planning is deciding in advance what to do.” “Perencanaan adalah menentukan terlebih dahulu apa yang harus dilakukan.” Tanpa perencanaan, organisasi hanya bereaksi terhadap keadaan, bukan mengendalikan keadaan.

Fenomena ini mudah ditemukan. Sebagian organisasi dakwah kehilangan energi karena Tarbiyah (Leadership Development) dan pembinaan ruhiyah diabaikan. Sebagian masjid hanya sibuk mengelola bangunan tanpa memiliki visi pemberdayaan umat. Sebagian sekolah Islam mengejar jumlah peserta didik, tetapi melupakan pengembangan karakter guru. Bahkan dalam dunia politik, tidak sedikit organisasi kehilangan Tsiqah (Trust) karena pemimpinnya lebih melayani kepentingan pribadi daripada tujuan bersama.

Jim Collins dalam Good to Great mengingatkan, “Great vision without great people is irrelevant.” “Visi yang hebat tanpa orang-orang yang hebat menjadi tidak berarti.” Namun sebaliknya, orang-orang hebat pun tidak akan menghasilkan perubahan tanpa sistem yang mampu menyatukan langkah mereka.

Pada akhirnya, organisasi yang tangguh bukanlah organisasi yang hanya memiliki pemimpin karismatik atau sistem administrasi yang rapi. Organisasi yang mampu bertahan adalah organisasi yang berhasil memadukan Al-Qiyadah (Leadership) yang memberi arah dengan Al-Idarah (Management) yang memastikan setiap langkah berjalan secara itqan (operational excellence). 

Ketika visi bertemu dengan disiplin eksekusi, organisasi tidak hanya mampu bertahan menghadapi perubahan, tetapi juga terus melahirkan manfaat yang berkelanjutan. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.