Organisasi yang besar tidak dibangun oleh orang-orang hebat semata, tetapi oleh budaya kerja (organizational culture) yang sehat. Dalam dunia bisnis, politik, maupun dakwah, budaya menentukan bagaimana orang berpikir, bekerja, dan mengambil keputusan ketika pemimpin sedang tidak berada di tempat.
John Adair menegaskan, “Leadership is action, not position.” “Kepemimpinan adalah tindakan, bukan kedudukan.” Artinya, budaya kerja tidak lahir dari struktur organisasi, tetapi dari keteladanan pemimpinnya.
Dalam perspektif tarbiyah, budaya tersebut dibangun di atas nilai ukhuwah (team cohesion), disiplin, dan semangat berjamaah. Musthafa Masyhur mengibaratkan pemimpin sebagai kepala dari sebuah tubuh: “Pimpinan dalam satu jama’ah ibarat kepala bagi tubuh. Inilah yang menentukan seluruh tujuan.”
John Adair mengutip konsep ashabiyah (team spirit) dari Ibnu Khaldun sebagai kekuatan utama organisasi. Ia menulis, “Ashabiyah includes esprit de corps, morale, identity, discipline and common purpose.” “Ashabiyah mencakup semangat korps, moral, identitas, disiplin, dan tujuan bersama.”
Budaya kerja yang kuat membuat organisasi mampu bertahan menghadapi tekanan, sedangkan budaya yang lemah akan menjadikan organisasi sekadar kumpulan individu yang bekerja sendiri-sendiri.
Kepercayaan: Modal Terbesar Seorang Pemimpin
Dalam dunia usaha terdapat ungkapan terkenal dari Warren Buffett:
“It takes 20 years to build a reputation and five minutes to ruin it.”
“Butuh dua puluh tahun membangun reputasi, tetapi hanya lima menit untuk menghancurkannya.”
Hal yang sama berlaku dalam kepemimpinan. Tsiqah (trust) merupakan modal sosial terbesar yang dimiliki seorang pemimpin.
Musthafa Masyhur menulis:
“Ukuran keutuhan dan kekompakan kepemimpinan adalah kekuatan jama’ah dan kepercayaan anggota terhadap kepemimpinannya.”
Sementara John Adair mengingatkan,
“You are not a leader until your appointment is accepted in the hearts and minds of your people.”
“Anda belum menjadi pemimpin sampai penunjukan Anda diterima oleh hati dan pikiran orang-orang yang Anda pimpin.”
Kepercayaan lahir dari integritas (integrity), konsistensi, keterbukaan, dan kesediaan pemimpin memikul beban bersama timnya. Pemimpin yang hanya hadir saat menerima penghargaan, tetapi menghilang ketika krisis datang, akan kehilangan legitimasi moral.
Konflik adalah Keniscayaan, Perpecahan adalah Pilihan
Setiap organisasi yang hidup pasti mengalami konflik (conflict management). Yang membedakan organisasi sehat dan organisasi yang rapuh bukanlah ada atau tidaknya konflik, tetapi bagaimana konflik itu dikelola.
Musthafa Masyhur menegaskan:
“Perbedaan pendapat dalam satu masalah adalah persoalan lumrah.”
Karena itu, penyelesaiannya harus dilakukan melalui syura (collaborative decision making), dialog, dan tabayyun, bukan melalui prasangka ataupun pertarungan ego.
Stephen Covey dalam The 7 Habits of Highly Effective People menulis,
“Seek first to understand, then to be understood.”
“Berusahalah terlebih dahulu memahami, baru kemudian dipahami.”
Prinsip tersebut sangat relevan dalam kepemimpinan modern maupun tarbiyah. Pemimpin tidak boleh menjadi hakim yang tergesa-gesa, tetapi fasilitator yang membantu seluruh pihak menemukan solusi terbaik (win-win solution).
Konflik yang diselesaikan dengan adil justru memperkuat organisasi, sedangkan konflik yang diabaikan akan berkembang menjadi krisis kepercayaan.
Menumbuhkan Kader: Ukuran Keberhasilan Seorang Pemimpin
Ukuran keberhasilan pemimpin bukanlah seberapa lama ia memimpin, tetapi seberapa banyak pemimpin baru yang berhasil ia lahirkan.
Dalam tarbiyah, proses ini disebut Tarbiyah (Leadership Development), yaitu pembentukan kader melalui pembinaan karakter, kompetensi, dan pengalaman lapangan.
Musthafa Masyhur menegaskan:
“Tarbiyyah inilah yang dapat mempersiapkan generasi penerus, pewaris dan pendukung beban amal, jihad dan pengorbanan.”
John Maxwell memberikan prinsip yang sangat terkenal:
“A leader’s lasting value is measured by succession.”
“Nilai abadi seorang pemimpin diukur dari keberhasilan regenerasinya.”
Karena itu, pemimpin harus berani melakukan delegation, coaching, dan succession planning, bukan justru memonopoli seluruh keputusan. Organisasi yang bergantung pada satu tokoh akan berhenti ketika tokoh itu berhenti. Sebaliknya, organisasi yang melahirkan pemimpin baru akan terus bertumbuh lintas generasi.
Pada akhirnya, qiyadah (leadership) dan idarah (management) bertemu pada satu tujuan yang sama, yaitu membangun organisasi yang mampu bertahan, berkembang, dan melahirkan perubahan. Budaya kerja yang kuat, kepercayaan yang tinggi, konflik yang dikelola secara dewasa, serta kaderisasi yang berkelanjutan merupakan empat pilar organisasi unggul.
Sebagaimana pepatah yang dikutip John Adair, “Ten well-led soldiers will defeat one hundred without a leader.” “Sepuluh prajurit yang dipimpin dengan baik akan mengalahkan seratus prajurit tanpa pemimpin.”
Kepemimpinan sejati bukan sekadar menggerakkan pekerjaan, tetapi membangkitkan potensi terbaik manusia untuk bersama-sama mewujudkan tujuan yang lebih besar daripada dirinya sendiri.(im)





