Konflik sering dianggap sebagai persoalan teknis yang dapat diselesaikan dengan prosedur, regulasi, atau mekanisme mediasi. Pendekatan tersebut memang penting, tetapi pengalaman menunjukkan bahwa banyak konflik kembali muncul meskipun aturan telah dibuat dengan sangat rinci.
Penyebabnya sederhana: konflik bukan hanya persoalan sistem, melainkan juga persoalan nilai dan hubungan antar-manusia.
Syaikh Musthafa Masyhur dalam Qadhaya Asasiyyah fid Dakwah menjelaskan bahwa kekuatan sebuah jamaah dibangun di atas dua fondasi utama: kekuatan iman dan kekuatan ukhuwah.
Dalam bahasa manajemen modern, keduanya dapat dipadankan dengan Core Values (nilai inti organisasi) dan Team Cohesion (kepaduan tim). Tanpa kedua pilar ini, organisasi hanya memiliki struktur, tetapi kehilangan ruh yang menghidupkannya.
Core Values yang Menjadi Kompas Organisasi
Setiap organisasi besar memiliki nilai-nilai yang menjadi pedoman perilaku anggotanya. Perusahaan-perusahaan kelas dunia seperti Google, Toyota, atau Microsoft tidak hanya mengandalkan strategi bisnis, tetapi juga membangun budaya yang kuat.
Dalam dakwah, posisi tersebut ditempati oleh iman. Musthafa Masyhur menegaskan bahwa, “Kekuatan aqidah dan iman adalah asas yang di atasnya ditegakkan bangunan kepribadian individu Muslim dan bangunan jamaah.”
Iman berfungsi sebagai kompas moral ketika terjadi benturan kepentingan. Saat seseorang dihadapkan pada pilihan antara ego pribadi dan kepentingan organisasi, nilai yang tertanam dalam dirinya akan menentukan keputusan yang diambil.
Jim Collins dalam buku Good to Great menulis: “Great vision without great people is irrelevant.” (“Visi yang hebat tanpa orang-orang yang hebat menjadi tidak berarti.”)
Namun, orang-orang hebat tidak lahir hanya dari kompetensi. Mereka lahir dari nilai yang kokoh. Dalam dakwah, nilai tersebut adalah iman yang melahirkan keikhlasan, kesabaran, tanggung jawab, dan pengorbanan.
Perekat yang Menyatukan Perbedaan
Jika iman adalah fondasi, maka ukhuwwah (team cohesion) adalah perekat yang menjaga bangunan tetap utuh.
Musthafa Masyhur memberikan ilustrasi yang sangat menarik. Menurut beliau, persatuan dalam organisasi ibarat semen yang menyatukan batu-batu bangunan menjadi satu struktur yang kokoh. Tanpa perekat, material terbaik sekalipun tidak akan mampu berdiri tegak.
Dalam perspektif kepemimpinan modern, konsep ini sejalan dengan pemikiran John Adair. Dalam Bukan Bos Tetapi Pemimpin, ia menulis: “The leader’s task is to ensure that the forces making for unity are stronger than those making for division.” (“Tugas pemimpin adalah memastikan bahwa kekuatan yang mendorong persatuan lebih kuat daripada kekuatan yang mendorong perpecahan.”)
Di dunia politik maupun organisasi, perbedaan pandangan adalah hal yang normal. Yang menentukan masa depan organisasi bukanlah absennya perbedaan, melainkan kemampuan menjaga persatuan di tengah perbedaan tersebut.
Modal Sosial yang Tak Ternilai
Salah satu faktor yang sering dilupakan dalam manajemen konflik adalah pentingnya mahabbah (altruistic love) dan tsiqah (mutual trust).
Stephen Covey dalam The Speed of Trust menegaskan: “Trust is the glue of life.” (“Kepercayaan adalah perekat kehidupan.”)
Kepercayaan mempercepat kolaborasi, menurunkan biaya konflik, dan meningkatkan produktivitas organisasi. Sebaliknya, kecurigaan akan melahirkan birokrasi berlebihan, komunikasi yang tidak sehat, dan konflik yang berkepanjangan.
Dalam tradisi tarbiyah, mahabbah melahirkan tsiqah. Ketika seseorang mencintai saudaranya karena Allah, ia akan lebih mudah berbaik sangka, memaafkan, dan menerima perbedaan. Dari sinilah lahir suasana kerja yang sehat dan produktif.
Musthafa Masyhur bahkan menegaskan bahwa tidak ada kesatuan tanpa cinta. Semakin tinggi kualitas ukhuwah, semakin kecil peluang konflik berkembang menjadi perpecahan.
Konflik Dapat Diselesaikan, Persaudaraan Harus Dipertahankan
Berbagai teknik manajemen konflik seperti Conflict Mapping, ABC Triangle, Onion Tool, negosiasi, maupun mediasi merupakan instrumen yang sangat bermanfaat. Namun semua alat tersebut hanya akan efektif jika ditopang oleh nilai yang benar dan hubungan yang sehat.
Pada akhirnya, organisasi yang kuat bukanlah organisasi yang bebas konflik, melainkan organisasi yang memiliki kemampuan mengelola konflik tanpa kehilangan persaudaraan. Ketika iman menjadi kompas, ukhuwah menjadi perekat, dan kepercayaan menjadi budaya, maka konflik akan berubah dari ancaman menjadi sarana pendewasaan organisasi.
Sebagaimana sering kita saksikan dalam dunia bisnis maupun dakwah, persatuan bukan sekadar simbol kekuatan. Persatuan adalah kekuatan itu sendiri. (im)





