Membangun Tsiqah: Fondasi Tak Terlihat yang Menentukan Kekuatan Organisasi

by -1530 Views

Dalam dunia bisnis, politik, maupun dakwah, ada satu aset yang nilainya jauh melampaui modal, teknologi, atau strategi. Aset itu adalah kepercayaan. Warren Buffett pernah berkata, “It takes 20 years to build a reputation and five minutes to ruin it.” (Dibutuhkan 20 tahun untuk membangun reputasi dan lima menit untuk menghancurkannya). 

Kalimat ini menggambarkan betapa rapuh sekaligus berharganya kepercayaan dalam kehidupan organisasi.

Musthafa Masyhur menjelaskan bahwa tsiqah (kepercayaan) bukan sekadar rasa suka kepada pemimpin, melainkan keyakinan mendalam terhadap integritas, kapasitas, dan ketulusan seseorang dalam mengemban amanah. 

Tanpa tsiqah, organisasi akan kehilangan daya ikatnya. Struktur mungkin tetap berdiri, tetapi ruh kebersamaan akan memudar.

Integritas: Titik Awal Lahirnya Kepercayaan

Kepercayaan tidak dibangun melalui slogan, melainkan melalui karakter. Karena itu, langkah pertama membangun tsiqah adalah menghadirkan integritas dan kejujuran (shidiq).

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119).

John Adair menyebut integritas sebagai fondasi utama kepemimpinan. Integritas berarti kesesuaian antara ucapan dan tindakan. Anggota tim tidak menilai pemimpin dari apa yang ia katakan dalam rapat, tetapi dari apa yang ia lakukan ketika menghadapi ujian.

Dalam organisasi, satu kebohongan kecil dapat menghapus puluhan kebaikan yang telah dibangun bertahun-tahun. Sebaliknya, konsistensi dalam berkata benar akan melahirkan rasa aman dan ketenteraman di kalangan anggota.

Memimpin dari Depan dan Berbagi Kesukaran

Kepercayaan tumbuh lebih cepat ketika pemimpin tidak hanya memberi instruksi, tetapi juga ikut memikul beban perjuangan.

Nabi Muhammad SAW memberikan teladan luar biasa dalam hal ini. Beliau tidak hanya memerintahkan para sahabat menggali parit pada Perang Khandaq, tetapi turut mengayunkan cangkul dan memindahkan tanah bersama mereka.

John Adair menyebut prinsip ini sebagai leading from the front. Menurutnya, pemimpin memperoleh otoritas moral ketika ia bersedia menghadapi kesulitan yang sama dengan pengikutnya.

Howard Schultz, pendiri Starbucks, pernah mengatakan: “When you’re surrounded by people who share a passionate commitment around a common purpose, anything is possible.” Ketika Anda dikelilingi orang-orang yang memiliki komitmen kuat terhadap tujuan yang sama, segala sesuatu menjadi mungkin.

Komitmen bersama itu tidak lahir dari jabatan, tetapi dari keteladanan. Pemimpin yang hadir saat tim menghadapi tekanan akan memperoleh loyalitas yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Syura, Keadilan, dan Komunikasi Terbuka

Tsiqah juga dibangun melalui sistem yang sehat. Musthafa Masyhur menempatkan syura sebagai instrumen penting dalam menjaga persatuan dan menguatkan kepercayaan.

Ketika anggota dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan, mereka merasa dihargai sebagai bagian dari solusi. Mereka tidak lagi menjadi objek kebijakan, tetapi subjek yang ikut menentukan arah organisasi.

Selain itu, keadilan harus ditegakkan tanpa favoritisme. Jim Collins dalam bukunya Good to Great menulis: “Great vision without great people is irrelevant.” Visi yang hebat tanpa orang-orang yang hebat adalah sesuatu yang tidak berarti.

Namun orang-orang hebat hanya akan bertahan dalam organisasi yang adil. Begitu anggota melihat adanya perlakuan berbeda karena kedekatan pribadi, kepercayaan akan mulai retak.

Karena itu, pemimpin harus membangun budaya tabayyun, transparansi informasi, dan komunikasi dua arah. Ketika isu atau kesalahpahaman muncul, penyelesaiannya bukan dengan prasangka, melainkan dengan klarifikasi dan dialog yang terbuka.

Pada akhirnya, tsiqah adalah hasil dari akumulasi ribuan tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten. Ia lahir dari kejujuran, keteladanan, keadilan, dan kepedulian terhadap manusia. Organisasi yang memiliki tingkat kepercayaan tinggi akan lebih solid menghadapi krisis, lebih cepat bergerak, dan lebih mudah mencapai tujuan bersama.

Sebaliknya, organisasi yang kehilangan tsiqah akan menghabiskan energinya untuk mengatasi konflik internal. Karena itu, membangun kepercayaan bukan sekadar tugas seorang pemimpin, melainkan investasi strategis yang menentukan masa depan organisasi. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.