Setiap organisasi yang hebat, baik perusahaan, lembaga publik, maupun organisasi dakwah (da’wah organization), selalu diawali oleh satu hal yang sama: tujuan yang jelas.
Sebaliknya, banyak keputusan yang gagal bukan karena kurangnya sumber daya, tetapi karena sejak awal para pengambil keputusan tidak benar-benar memahami apa yang ingin dicapai.
Harold Koontz dalam Management menegaskan: “Decision making—the selection from among alternatives of a course of action—is at the core of planning.” (“Pengambilan keputusan—memilih satu tindakan dari berbagai alternatif—merupakan inti dari perencanaan.”)
Sebelum sebuah keputusan dilaksanakan, seluruh proses dimulai dengan menentukan arah yang ingin dituju. Tanpa arah, setiap keputusan hanya menjadi aktivitas, bukan strategi.
Tujuan Tidak Jelas Melahirkan Keputusan yang Kabur
John Adair memulai proses pengambilan keputusan dengan sebuah pertanyaan yang sangat sederhana, tetapi mendasar:
“Do you know what you are trying to achieve?” (“Apakah Anda benar-benar mengetahui apa yang ingin Anda capai?”)
Ia melanjutkan:
“You do need to be clear—or as clear as possible—about where you want to get to. Otherwise the whole process of decision making is obscured in a cloud.” (“Anda harus benar-benar jelas—atau setidaknya sejelas mungkin—tentang ke mana Anda ingin menuju. Jika tidak, seluruh proses pengambilan keputusan akan tertutup oleh kabut.”)
Adair kemudian mengutip sebuah pepatah klasik:
“If you do not know what port you are heading for, any wind is the right wind.” (“Jika Anda tidak mengetahui pelabuhan tujuan, maka angin apa pun akan terasa sebagai angin yang benar.”)
Dalam dunia bisnis, perusahaan tanpa tujuan strategis (strategic goals) mudah tergoda mengikuti setiap tren pasar. Dalam politik, organisasi tanpa visi akan lebih sibuk merespons isu sesaat daripada membangun masa depan.
Musthafa Masyhur dalam Qaḍāyā Asāsiyyah fī ad-Da’wah bahkan menegaskan bahwa kejelasan tujuan merupakan qadhiyyah (strategic cause), yaitu fondasi utama keberhasilan sebuah gerakan.
Merumuskan Tujuan yang Dapat Dikerjakan
Tujuan yang baik tidak cukup hanya menginspirasi, tetapi juga harus dapat dilaksanakan.
Harold Koontz mengingatkan:
“No one can accomplish an ambiguous goal.” (“Tidak seorang pun mampu mencapai tujuan yang ambigu.”)
Menurut John Adair dalam Develop Your Leadership Skills, tujuan yang efektif memiliki enam karakteristik utama: clear, concrete, time-limited, realistic, challenging, dan capable of evaluation.
Dengan kata lain, tujuan harus jelas, konkret, memiliki batas waktu, realistis, cukup menantang, serta dapat diukur keberhasilannya.
Peter Drucker menyampaikan prinsip yang sejalan:
“What gets measured gets managed.” (Apa yang dapat diukur akan lebih mudah dikelola,)
Karena itu, pemimpin harus mengubah cita-cita besar menjadi indikator keberhasilan (key performance indicators) yang dapat dipahami oleh seluruh anggota tim.
Berpikir Satu Tingkat Lebih Tinggi
Dalam Effective Strategic Leadership, John Adair memperkenalkan konsep Jacob’s Ladder, yaitu hirarki berpikir mulai dari Purpose, Goals, Objectives, hingga Steps.
Purpose adalah alasan keberadaan organisasi. Goals menerjemahkan alasan tersebut menjadi sasaran strategis. Objectives mengubah sasaran menjadi target yang spesifik dan terukur, sedangkan Steps adalah tindakan nyata yang dilakukan setiap hari.
Adair memberikan refleksi yang menarik:
“Paradoxically, you will not understand your end until you see it as a means to another higher end.” (Secara paradoks, Anda tidak akan memahami tujuan akhir sebelum melihatnya sebagai jalan menuju tujuan yang lebih tinggi.”)
Prinsip ini sangat relevan bagi seorang pemimpin. Keuntungan bukanlah tujuan akhir sebuah perusahaan, melainkan sarana untuk menciptakan nilai (value creation). Kekuasaan bukan tujuan politik, tetapi instrumen untuk menghadirkan kemaslahatan publik.
Dalam perspektif Islam, cara berpikir ini selaras dengan konsep ikhlāṣ (purpose-driven leadership), yaitu memastikan bahwa setiap tujuan operasional tetap terhubung dengan tujuan yang lebih luhur.
Mengubah Tujuan Menjadi Gerakan Bersama
Tujuan yang hanya dipahami oleh pimpinan tidak akan menghasilkan perubahan organisasi. Musthafa Masyhur dalam Al-Qiyādah wal Jundiyyah menekankan bahwa tujuan harus dijelaskan secara terang kepada seluruh pelaksana agar setiap orang memahami perannya.
Hal ini sejalan dengan penjelasan John Adair bahwa:
“Decision-making is what turns thought into action.” (Pengambilan keputusan adalah proses yang mengubah pemikiran menjadi tindakan.)
Transformasi tersebut hanya terjadi apabila setiap anggota tim memahami mengapa mereka bekerja, apa targetnya, dan bagaimana kontribusinya terhadap misi organisasi.
Pada akhirnya, kualitas sebuah keputusan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan analisis, tetapi juga oleh kejernihan tujuan. Pemimpin yang mampu merumuskan arah secara jelas akan lebih mudah menyusun strategi, menggerakkan manusia, mengalokasikan sumber daya, dan mengevaluasi hasil.
Sebaliknya, tanpa tujuan yang jelas, bahkan organisasi yang memiliki sumber daya melimpah akan kehilangan fokus dan bergerak tanpa arah. (im)





