Pengumpulan Informasi: Antara Kualitas vs. Kuantitas

by -1684 Views

Era digital telah mengubah tantangan seorang pemimpin. Dahulu, informasi merupakan barang langka. Kini, informasi tersedia dalam jumlah yang nyaris tak terbatas. 

Persoalannya bukan lagi bagaimana memperoleh data, melainkan bagaimana memilih data yang benar-benar bernilai bagi pengambilan keputusan.

Dalam management modern, kualitas keputusan sangat bergantung pada kualitas informasi yang digunakan. Namun, sebagaimana diingatkan oleh John Adair, kualitas informasi tidak diukur dari banyaknya laporan yang dibaca, melainkan dari relevansinya terhadap keputusan yang akan diambil.

Informasi Harus Mengurangi Ketidakpastian

Anthony dan Dearden dalam Management Control Systems mengutip definisi C. West Churchman mengenai informasi:

“Recorded experience which is useful for decision-making.” (“Informasi adalah pengalaman yang terdokumentasikan dan berguna untuk pengambilan keputusan.”)

Mereka kemudian menambahkan bahwa informasi merupakan:

“A product that reduces uncertainty about which act to perform.” (“Suatu produk yang mengurangi ketidakpastian mengenai tindakan apa yang harus dipilih.”)

Dengan kata lain, informasi bukan sekadar kumpulan fakta, angka, atau grafik. Sebuah laporan hanya bernilai apabila membantu pemimpin mengurangi ketidakpastian (uncertainty reduction) sehingga mampu memilih tindakan terbaik.

Peter Drucker bahkan mengingatkan: “The most important thing in communication is hearing what isn’t said.” (“Hal terpenting dalam komunikasi adalah mampu memahami apa yang tidak diucapkan.”)

Seorang pemimpin tidak hanya membaca data, tetapi juga memahami makna strategis di balik data tersebut.

Informasi yang Tersedia Belum Tentu Informasi yang Dibutuhkan

John Adair mengingatkan salah satu kesalahan paling umum dalam pengambilan keputusan: 

“Remember the distinction between available and relevant information.” (“Ingatlah perbedaan antara informasi yang tersedia dan informasi yang relevan.”)

Sering kali organisasi mengambil keputusan berdasarkan data yang mudah diperoleh, bukan berdasarkan data yang benar-benar diperlukan. Akibatnya, keputusan terlihat berbasis data (data-driven), padahal sesungguhnya hanya berbasis kenyamanan (convenience-driven).

Adair bahkan menambahkan secara satiris:

“Life would be much simpler if you could just use the information at your disposal, rather than that which you really need to make the decision!” (“Hidup tentu jauh lebih mudah apabila kita cukup menggunakan informasi yang sudah tersedia, bukan informasi yang benar-benar dibutuhkan untuk mengambil keputusan.”)

Dalam bisnis maupun politik, kemampuan mengajukan pertanyaan yang tepat sering kali lebih penting daripada kemampuan mengumpulkan data sebanyak-banyaknya.

Bahaya Information Overload

Ledakan informasi melahirkan fenomena yang dikenal sebagai Information Overload Syndrome, yaitu kondisi ketika seseorang menerima begitu banyak informasi hingga justru kehilangan kemampuan mengambil keputusan.

Harold Koontz mengingatkan:

“What is often needed, however, is not more information, but relevant information.” (Hal yang sering dibutuhkan bukanlah informasi yang lebih banyak, melainkan informasi yang lebih relevan.”)

Koontz juga mengutip penelitian I.G. Miller yang menunjukkan bahwa setiap tahun terbit lebih dari 1,2 juta artikel ilmiah, puluhan ribu buku, dan ratusan ribu laporan. Tidak ada pemimpin yang mampu mencerna seluruhnya.

Jeff Bezos pernah mengatakan: “Most decisions should probably be made with somewhere around 70% of the information you wish you had.” (“Sebagian besar keputusan seharusnya diambil ketika kita telah memiliki sekitar 70% informasi yang kita harapkan.”)

Menunggu informasi yang sempurna sering kali berarti kehilangan momentum (window of opportunity).

Menyaring Informasi yang Bernilai

Karena informasi memiliki biaya, baik waktu maupun uang, Anthony dan Dearden menegaskan prinsip yang sangat penting:

“The value of additional information should exceed its cost.” (“Nilai informasi tambahan harus lebih besar daripada biaya untuk memperolehnya.”)

Seorang pemimpin perlu membiasakan diri bertanya: “Apakah informasi ini benar-benar akan mengubah keputusan saya?” Jika jawabannya tidak, maka kemungkinan besar informasi tersebut hanya menambah beban berpikir.

Dalam perspektif Islam, sikap ini sejalan dengan prinsip tabayyun (fact verification). Verifikasi tidak berarti mengumpulkan semua informasi tanpa batas, melainkan memastikan bahwa informasi yang digunakan benar, relevan, dan dapat dipercaya sebelum dijadikan dasar keputusan.

John Adair juga menyarankan agar pemimpin menetapkan terlebih dahulu kriteria informasi yang dibutuhkan. Dengan demikian, Depth Mind (subconscious processing) dapat bekerja lebih efektif dalam menyusun berbagai fakta menjadi pemahaman yang utuh.

Pada akhirnya, keunggulan seorang pemimpin tidak ditentukan oleh seberapa banyak informasi yang dimilikinya, tetapi oleh kemampuannya membedakan antara data dan wawasan (insight). 

Organisasi yang unggul bukanlah organisasi yang menghasilkan laporan paling tebal, melainkan organisasi yang mampu mengubah informasi yang relevan menjadi keputusan yang cepat, tepat, dan bernilai strategis.(im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.