Keputusan yang Salah atau Keputusan yang Buruk?

by -1580 Views

Keberhasilan seringkali diukur dari hasil akhir. Padahal, seorang pemimpin yang matang memahami bahwa hasil (outcome) tidak selalu sepenuhnya berada dalam kendalinya. Hal yang sepenuhnya berada dalam kendali adalah kualitas proses (decision process) yang ia tempuh sebelum mengambil keputusan.

John Adair membedakan secara tegas antara wrong decision (keputusan yang salah) dan bad decision (keputusan yang buruk). 

Perbedaan ini tampak sederhana, tetapi menjadi fondasi penting dalam membangun budaya kepemimpinan (leadership culture) yang sehat dan akuntabel.

Wrong Decision: Ketika Risiko Tidak Berpihak

Keputusan yang salah bukan berarti proses berpikirnya keliru. Seringkali seorang pemimpin telah mengumpulkan data, mempertimbangkan berbagai alternatif, berkonsultasi dengan tim, lalu memilih opsi yang secara rasional merupakan pilihan terbaik. 

Namun, hasil akhirnya tetap tidak sesuai harapan karena adanya faktor ketidakpastian.

John Adair memberikan ilustrasi yang menarik: “A wrong decision is choosing to dig your only oil well in this place rather than that one.” (“Keputusan yang salah adalah memilih menggali satu-satunya sumur minyak di lokasi ini, padahal minyak ternyata berada di lokasi yang lain.”)

Tidak ada proses yang dilanggar. Apa yang terjadi adalah realitas tidak berjalan sebagaimana prediksi.

Dalam dunia bisnis, keputusan investasi dapat gagal karena perubahan geopolitik, krisis ekonomi global, atau perubahan perilaku konsumen yang sulit diprediksi. 

Dalam politik, kebijakan publik yang telah disusun secara matang dapat menghadapi dinamika sosial yang berubah dengan cepat.

Peter Drucker pernah mengingatkan: “Whenever one has to judge, one can never be certain.” (“Setiap kali seseorang harus membuat penilaian, ia tidak pernah dapat memperoleh kepastian sepenuhnya.”)

Karena itu, pemimpin tidak boleh takut mengambil keputusan hanya karena tidak adanya jaminan keberhasilan.

Bad Decision: Mengabaikan Disiplin Berpikir

Berbeda dengan wrong decision, bad decision merupakan kegagalan yang berasal dari kelalaian manusia sendiri. Proses yang benar diabaikan, data yang relevan tidak diperhatikan, atau peringatan para ahli sengaja disisihkan demi kepentingan sesaat.

John Adair menjelaskan: “The method or process of decision making was deliberately ignored or irresponsibly put on one side.” (“Metode atau proses pengambilan keputusan sengaja diabaikan atau dikesampingkan secara tidak bertanggung jawab.”)

Contoh yang ia gunakan adalah tragedi peluncuran pesawat ulang-alik Challenger pada tahun 1986. Para insinyur telah memperingatkan bahwa suhu yang sangat dingin hampir pasti menyebabkan kegagalan pada cincin penyegel (O-ring). Namun, peringatan tersebut diabaikan sehingga berujung pada bencana.

Adair menyebut keputusan semacam ini sebagai: “Predictable pitfalls; they are unforced errors.” (“Jebakan yang sebenarnya dapat diprediksi; kesalahan yang tidak perlu terjadi.”)

Dalam organisasi, keputusan buruk biasanya lahir karena ego kepemimpinan, budaya anti-kritik, atau tekanan politik yang mengalahkan pertimbangan profesional.

Jim Collins dalam Good to Great menulis: “The good-to-great leaders began the process by first getting the right people on the bus.” (“Para pemimpin hebat memulai perubahan dengan memastikan orang-orang yang tepat berada di dalam tim.”)

Artinya, keputusan berkualitas lahir dari budaya organisasi yang menghargai fakta dan keberanian menyampaikan pendapat yang berbeda.

Integritas dalam Mengevaluasi Keputusan

Kesalahan terbesar seorang pemimpin bukanlah pernah gagal, melainkan menolak belajar dari kegagalannya.

Musthafa Masyhur dalam Al-Qiyādah wal Jundiyyah menegaskan bahwa seorang pemimpin harus berani mengakui kekeliruannya agar organisasi terus bertumbuh. 

Sikap ini mencerminkan muḥāsabah (self-evaluation) dan amanah (accountable leadership), dua nilai yang sangat ditekankan dalam kepemimpinan Islam.

Rasulullah ﷺ juga mengajarkan pentingnya profesionalisme melalui sabdanya: “Sesungguhnya Allah mencintai apabila salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan sebaik-baiknya.”

Hadis ini menegaskan bahwa yang dituntut dari seorang pemimpin adalah kesungguhan menjalankan proses terbaik, bukan menjamin hasil yang sepenuhnya berada di luar kuasa manusia.

Kepemimpinan Diukur dari Disiplin Berpikir

Pemimpin yang efektif bukanlah orang yang selalu benar. John Adair mengingatkan bahwa tidak seorangpun mampu mengambil keputusan yang benar setiap saat. 

Hal yang membedakan pemimpin unggul adalah konsistensinya menggunakan proses berpikir yang disiplin, objektif, dan berbasis fakta.

Jika sebuah keputusan ternyata salah karena perubahan keadaan yang tidak dapat diprediksi, maka itu adalah harga dari keberanian memimpin. Namun, apabila keputusan gagal karena mengabaikan data, menolak mendengar nasihat, atau melompati prosedur yang semestinya, maka itulah bad decision yang mencerminkan kegagalan kepemimpinan intelektual (intellectual leadership).

Pada akhirnya, organisasi yang hebat tidak dibangun oleh pemimpin yang tidak pernah salah, tetapi oleh pemimpin yang selalu menjaga kualitas proses, berani mengevaluasi diri, dan terus belajar dari setiap keputusan yang telah diambil. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.