Syura dan Tata Kelola Pengambilan Keputusan

by -1394 Views

Dalam dunia bisnis maupun politik, kualitas sebuah organisasi sangat ditentukan oleh kualitas keputusan yang dihasilkannya. Keputusan strategis bukan lahir dari intuisi semata, melainkan dari proses yang sistematis, objektif, dan melibatkan perspektif yang beragam. 

Dalam terminologi manajemen modern, proses ini dikenal sebagai collaborative decision making atau participative governance. Dalam Islam, konsep tersebut telah lama dikenal dengan istilah syura (consultative leadership).

Allah Swt. berfirman:

وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ

“Sedangkan urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka.”

Ayat ini menunjukkan bahwa musyawarah bukan sekadar prosedur organisasi, tetapi merupakan fondasi tata kelola yang sehat (good governance).

Syura sebagai Fondasi Good Governance

Musthafa Masyhur dalam Qadhaya Asasiyyah fid Da’wah menegaskan:

“Dakwah Ikhwanul Muslimin terkenal dengan pelaksanaan prinsip syura yang dianjurkan Islam. Islam mensyari’atkan sesuatu yang dapat mewujudkan kebaikan.”

Syura bukanlah seremoni administratif ataupun formalitas rapat. Ia merupakan mekanisme untuk mengintegrasikan berbagai sudut pandang sehingga organisasi mampu menghasilkan keputusan terbaik.

Musthafa Masyhur mengingatkan:

“Syura harus ditegakkan dengan benar-benar, tidak boleh hanya bersifat formalitas, seperti yang berlaku bagi sebagian pemerintahan saat ini.”

Prinsip ini sejalan dengan pandangan John Adair dalam Decision Making and Problem Solving Strategies:

“The more you share decisions, the better those decisions are likely to be. Moreover, the more people share in decisions that directly affect their working lives, the more motivated they are likely to be to implement them.”

“Semakin banyak keputusan dibagikan kepada anggota, semakin besar peluang keputusan tersebut menjadi berkualitas. Selain itu, semakin banyak orang dilibatkan dalam keputusan yang memengaruhi pekerjaan mereka, semakin tinggi pula motivasi mereka untuk melaksanakannya.”

Inilah esensi employee engagement sekaligus stakeholder participation dalam organisasi modern.

Musyawarah Menguatkan Kepemimpinan

Sebagian orang menganggap musyawarah akan melemahkan otoritas pemimpin. Faktanya justru sebaliknya. Syura merupakan instrumen untuk memperkuat strategic leadership, bukan menggantikannya.

John Adair menulis:

“Everyone has ideas and one in twelve may be a good one… Sometimes, usually when least expected, something comes along that is gold-plated.”

“Setiap orang memiliki ide, dan mungkin satu dari dua belas adalah ide yang sangat baik. Sering kali, justru ide terbaik muncul dari tempat yang tidak terduga.”

Namun setelah seluruh masukan dikumpulkan, pemimpin tetap memegang tanggung jawab akhir.

Musthafa Masyhur dalam Al-Qiyadah wal Jundiyah menegaskan:

“Satu jama’ah tidak mungkin dapat bergerak tanpa pimpinan yang mengatur seluruh gerakannya, menentukan tujuan dan sasaran serta sarana, mengawasi dan mengontrol pelaksanaan programnya.”

Inilah keseimbangan antara participative leadership dan executive authority.

Disiplin Rapat sebagai Instrumen Produktivitas

Dalam perspektif manajemen, rapat merupakan investasi waktu. Karena itu, efektivitasnya harus dijaga melalui disiplin proses.

Musthafa Masyhur memberikan beberapa prinsip yang hingga kini tetap relevan.

Pertama, setiap rapat diawali dengan niat ibadah.

“Amal usaha da’wah adalah ‘ibadah… Maka sikap kita terhadapnya sama seperti terhadap ‘ibadah lain, yaitu dengan niyat ikhlas karena Allah semata.”

Kedua, pembukaan dilakukan secara singkat dan langsung pada pokok agenda.

Ketiga, pengendalian waktu menjadi tanggung jawab pimpinan rapat.

Beliau menulis:

“Pimpinan pertemuan harus benar-benar menjaga waktu supaya agenda acara berjalan sesuai dengan waktunya.”

Beliau juga mengingatkan:

“Ketegasan dalam masalah ini penting, sebab kalau pembicaraan dibiarkan bertele-tele, jelas akan merugikan tema-tema yang belum dibahas.”

Keempat, peserta wajib menjaga etika komunikasi.

“Tidak boleh memotong pembicaraan orang lain karena dapat memutus rangkaian fikiran orang yang berbicara.”

Dalam bahasa manajemen modern, seluruh prinsip tersebut merupakan bagian dari meeting governance, time management, dan communication discipline.

Setelah Diputuskan, Saatnya Eksekusi

Keputusan terbaik bukan hanya keputusan yang benar, tetapi juga keputusan yang dijalankan secara konsisten.

John Adair mengingatkan:

“Have you tested the consensus to see whether your preferred course of action is regarded as the optimum one?”

“Sudahkah Anda menguji apakah tindakan yang Anda pilih benar-benar dipandang sebagai pilihan terbaik oleh mayoritas?”

Namun beliau juga mengakui bahwa:

“Decision making is not an exact science.”

“Pengambilan keputusan bukanlah ilmu yang pasti.”

Karena itu, seorang pemimpin harus berani mengambil keputusan meskipun informasi belum sepenuhnya lengkap.

Dalam perspektif syura, setelah keputusan ditetapkan, seluruh anggota berkewajiban memberikan komitmen penuh.

Musthafa Masyhur menegaskan:

“Dalam syura yang diambil adalah pendapat yang paling kuat bagi kepentingan dakwah. Setelah ada keputusan yang disepakati bersama, tidak diperkenankan orang memiliki pendapat berbeda, berbicara, dan bergerak menurut pendapatnya sendiri.”

Komitmen ini identik dengan konsep organizational commitment dan execution excellence dalam ilmu manajemen.

Berbeda Pendapat tanpa Kehilangan Persaudaraan

Organisasi yang sehat bukanlah organisasi tanpa perbedaan pendapat, melainkan organisasi yang mampu mengelola perbedaan secara dewasa.

Musthafa Masyhur menulis:

“Perbedaan pendapat dalam satu masalah adalah persoalan lumrah. Karena itu semua pihak harus bersungguh-sungguh memperbincangkannya dengan cara yang baik, penuh kemesraan, hanya bertujuan untuk mencari kebenaran.”

Beliau juga mengingatkan pentingnya menerima hasil keputusan bersama serta memegang kaidah:

“Kita bekerja sama dalam hal yang sama-sama kita sepakati dan saling menghargai terhadap hal-hal yang di antara kita berbeda.”

Dalam bahasa kepemimpinan modern, inilah praktik constructive disagreement, psychological safety, dan team alignment. Perbedaan pandangan menjadi sumber inovasi, sedangkan kesatuan komitmen menjadi kekuatan organisasi dalam mencapai tujuan bersama. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.