Antara Langit dan Realitas

by -13439 Views

Seorang pemimpin Muslim tidak boleh terjebak dalam dikotomi antara spiritualitas (keimanan, ruhiyah)  dan profesionalisme. Ia membutuhkan dua kemampuan sekaligus: spiritual intelligence untuk menjaga hubungan dengan Allah dan strategic intelligence untuk membaca realitas secara objektif.

Doa menjaga arah hati. Data membantu memahami medan.

Keduanya bukan dua jalan yang saling bertentangan. Justru, dalam kepemimpinan yang matang, keduanya harus bekerja bersama. Iman memberikan orientasi; data memberikan informasi. Iman menentukan apa yang layak diperjuangkan; data membantu menentukan bagaimana perjuangan itu dilakukan secara efektif.

Perencanaan yang matang bukan tanda lemahnya tawakal. Sebaliknya, ia merupakan bagian dari tanggung jawab seorang hamba yang memahami sunnatullah. Said Hawwa dalam Jundullāh Takhṭīṭan menegaskan bahwa “perencanaan tertinggi bagi umat… adalah tugas yang paling agung dari semuanya”.

Tanpa integrasi doa dan data, sebuah gerakan akan mudah mengalami salah satu dari dua ekstrem: saleh secara ritual tetapi lemah secara operasional, atau unggul secara materi tetapi kehilangan arah spiritual.

Faith and Facts

Iman memberikan orientasi, nilai, keberanian, dan ketenangan batin. Ia menjawab pertanyaan mendasar: untuk apa kita bergerak, nilai apa yang harus kita pegang, dan kepada siapa kita menggantungkan hasil?

Namun, iman harus diwujudkan melalui tindakan yang efektif. Peter F. Drucker dalam The Effective Executive mengingatkan bahwa “kecerdasan, imajinasi, dan pengetahuan adalah sumber daya yang esensial, tetapi hanya efektivitas yang mengubahnya menjadi hasil”.

Di sinilah fakta dan data mengambil peran.

Data membantu pemimpin memahami: siapa yang dilayani; apa yang sedang terjadi; mengapa sesuatu terjadi; kecenderungan apa yang sedang berkembang; di mana letak masalah; dan tindakan apa yang mungkin menghasilkan dampak terbesar.

Drucker mengingatkan seorang eksekutif untuk tidak memulai dari apa yang ia inginkan, tetapi bertanya, “apa yang perlu dilakukan?”. Pertanyaan sederhana ini memiliki implikasi besar.

Pemimpin yang hanya bertanya “apa yang saya inginkan?” akan cenderung mencari fakta yang membenarkan keinginannya. Sebaliknya, pemimpin yang bertanya “apa yang perlu dilakukan?” akan terdorong untuk menghadapi realitas, termasuk realitas yang tidak menyenangkan.

Faith without facts can become naïveté, while facts without faith can become directionless efficiency. Iman tanpa fakta dapat berubah menjadi keyakinan yang tidak berpijak. Data tanpa iman dapat menghasilkan efisiensi yang tidak memiliki tujuan moral.

Reading Reality

Pemimpin tidak boleh hanya memahami organisasi dari dalam. Ia harus mampu membaca dunia diluar organisasinya.

Masyarakat berubah. Demografi berubah. Teknologi berubah. Pola komunikasi berubah. Perilaku pemilih berubah. Aspirasi generasi muda berubah. Struktur ekonomi berubah. Bahkan cara manusia membangun kepercayaan juga berubah.

Drucker menjelaskan bahwa pemimpin perlu memperhatikan “perubahan dalam struktur industri dan struktur pasar; demografi; serta perubahan dalam pola pikir, nilai, persepsi, suasana hati, atau makna”.

Artinya, strategic leadership membutuhkan kemampuan membaca realitas secara terus-menerus.

Dalam konteks organisasi politik dan sosial, pemimpin perlu mengetahui: siapa konstituen dan masyarakat yang dilayani; bagaimana struktur demografinya; apa kebutuhan riil mereka; bagaimana perilaku mereka berubah; isu apa yang mereka anggap penting; bagaimana persepsi mereka terhadap organisasi; siapa kompetitor atau aktor lain yang memengaruhi mereka; dan perubahan apa yang kemungkinan terjadi dalam beberapa tahun ke depan.

Ini bukan sekadar pekerjaan tim riset.

Pemimpin sendiri harus memiliki kemampuan membaca realitas.Apabila pemimpin tidak memahami medan, ia akan mudah mengambil keputusan berdasarkan asumsi orang lain.

Said Hawwa menekankan pentingnya bekal “budaya, akhlak, perencanaan, organisasi, dan eksekusi”. Lima unsur ini menunjukkan bahwa perjuangan tidak cukup hanya dengan semangat. Ia membutuhkan manusia yang memahami realitas sekaligus mampu mengubah pemahaman tersebut menjadi tindakan.

Data Is Not Destiny

Di era big data, muncul godaan baru: menganggap bahwa apapun yang dapat diukur pasti benar, dan apapun yang dapat diprediksi pasti akan terjadi.

Ini adalah kesalahan. Data is not destiny.

Data membantu kita melakukan estimate, tetapi tidak memberikan guarantee. Survei dapat memperkirakan kecenderungan. Statistik dapat menunjukkan pola. Analytics dapat menemukan korelasi. AI dapat membantu memproses informasi dalam jumlah besar. Tetapi semuanya tetap memiliki keterbatasan.

Drucker mengingatkan bahwa “kejadian luar yang relevan jarang tersedia dalam bentuk yang dapat dikuantifikasi sampai semuanya sudah terlambat untuk dilakukan sesuatu”.

Ketika sebuah fenomena akhirnya menjadi angka yang mudah diukur, bisa jadi perubahan penting telah berlangsung jauh sebelumnya.

Dalam strategi, setiap keputusan pada dasarnya merupakan hipotesis tentang masa depan. Kita memperkirakan bahwa jika tindakan tertentu dilakukan, maka hasil tertentu akan muncul.

Karena itu, data harus digunakan untuk: Estimate, not guarantee. Pemimpin harus membaca data sebagai sinyal, bukan sebagai takdir. Data mengatakan apa yang mungkin terjadi. Pemimpin tetap harus menentukan apa yang harus dilakukan.

Disinilah judgment menjadi penting.

Bahaya Spiritual Blindness

Ada ekstrem pertama yang perlu dihindari: membuat keputusan tanpa membaca fakta.

Pemimpin mungkin berkata: “Kita yakin Allah akan menolong.” Keyakinan tersebut benar.

Tetapi apabila kemudian keyakinan itu dijadikan alasan untuk tidak melakukan riset, tidak membaca data, tidak mengevaluasi kegagalan, tidak memahami masyarakat, dan tidak memperbaiki strategi, maka yang terjadi bukan tawakal.

Itu adalah spiritual blindness.

Drucker mencatat kecenderungan manusia untuk “mencari fakta-fakta yang sesuai dengan kesimpulan yang telah mereka capai sebelumnya”.

Fenomena ini sangat berbahaya bagi pemimpin.

Seseorang sudah memiliki kesimpulan terlebih dahulu, kemudian mencari data untuk membenarkannya. Ketika menemukan data yang bertentangan, data tersebut dianggap salah, tidak penting, atau bahkan dianggap sebagai bentuk ketidaksetiaan.

Akibatnya, organisasi kehilangan kemampuan untuk belajar.

Lebih berbahaya lagi ketika bahasa spiritual digunakan untuk menutupi kelemahan manajerial: “Yang penting niatnya baik.” “Kita sudah berdoa.” “Allah yang menentukan.” “Mungkin memang belum waktunya.”

Semua kalimat tersebut bisa benar dalam konteks yang tepat.

Tetapi tidak satu pun boleh digunakan untuk menghindari pertanyaan: Apa yang salah dalam proses kita? Pemimpin yang matang tidak takut pada fakta. Ia justru mencari fakta karena ingin memperbaiki ikhtiar.

Bahaya Data Worship

Namun, jangan berpindah dari satu ekstrem ke ekstrem lainnya.

Jika spiritual blindness menjadikan manusia buta terhadap realitas, maka data worship menjadikan manusia seolah-olah menyembah angka.

Survei dianggap kebenaran mutlak. Algoritma dianggap tidak pernah salah. AI dianggap lebih tahu daripada manusia. Statistik dianggap mampu menjelaskan seluruh realitas.

Padahal tidak demikian.

Drucker memberikan peringatan tajam mengenai keterbatasan teknologi: “Komputer, sebagai seorang yang bodoh secara mekanis (mechanical moron), hanya dapat menangani data yang dapat dikuantifikasi”.

Kenyataannya, tidak semua hal yang penting dapat dihitung. Kepercayaan tidak selalu dapat diukur secara sempurna. Loyalitas tidak selalu muncul dalam survei. Kualitas karakter tidak selalu tercermin dalam angka. Keberanian tidak selalu terlihat dalam dashboard. Bahkan perubahan sosial yang paling penting seringkali dimulai sebagai gejala kecil yang belum memiliki cukup data untuk disebut sebagai sebuah tren.

Drucker menegaskan bahwa “masalahnya adalah kejadian luar yang penting dan relevan seringkali bersifat kualitatif dan tidak mampu dikuantifikasi. Mereka belum menjadi ‘fakta'”.

Data harus ditempatkan pada posisi yang benar. Data adalah alat bantu pengambilan keputusan, bukan pengganti kepemimpinan.

Pemimpin tetap membutuhkan judgment, pengalaman, intuisi yang terlatih, kebijaksanaan, nilai, dan keberanian untuk mengambil keputusan, bahkan ketika data belum lengkap. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.