Langkah 5: Membuat Keputusan

by -1421 Views

Setelah berbagai alternatif disusun dan faktor pembatas berhasil dikenali, proses perencanaan memasuki tahap yang paling menentukan: membuat keputusan. 

Pada tahap ini, seorang pemimpin tidak lagi sekadar berpikir tentang berbagai kemungkinan. Ia harus memilih satu jalur tindakan dan siap mempertanggungjawabkan pilihan tersebut.

Perencanaan yang tidak berujung pada keputusan hanyalah dokumen. Sebaliknya, keputusan mengubah pemikiran menjadi tindakan.

Pengambilan Keputusan: Saatnya Memilih

John Adair menjelaskan bahwa secara etimologis, decision berasal dari kata Latin yang bermakna “memotong”. Yang dipotong adalah proses mempertimbangkan berbagai pilihan. Setelah pilihan dianalisis, seorang pemimpin harus berani mengakhiri fase pertimbangan dan memasuki fase tindakan.

Inilah salah satu perbedaan antara pemimpin dan sekadar pengamat. Pengamat dapat terus menganalisis. Pemimpin harus menentukan arah.

Dalam praktiknya, keputusan sering kali harus dibuat ketika informasi belum lengkap. Tidak ada pemimpin yang memiliki seluruh data tentang masa depan. Karena itu, keputusan bukanlah tindakan yang menunggu kepastian, melainkan tindakan yang dilakukan berdasarkan informasi terbaik yang tersedia, pertimbangan yang matang, dan keberanian menghadapi ketidakpastian.

Di sinilah pengalaman, intuisi, dan judgment menjadi penting. Data memberikan dasar rasional, tetapi kepemimpinan menentukan bagaimana data tersebut diterjemahkan menjadi tindakan.

Musyawarah: Memperluas Perspektif

Meskipun keputusan membutuhkan keberanian pemimpin, bukan berarti keputusan harus dibuat sendirian. Dalam organisasi maupun dalam kehidupan berjamaah, musyawarah merupakan sarana penting untuk memperkaya perspektif sekaligus membangun komitmen.

Musthafa Masyhur menekankan pentingnya pemimpin bermusyawarah dengan para pembantunya sebelum mengambil keputusan penting. Musyawarah bukan hanya menghasilkan masukan, tetapi juga membangun rasa kebersamaan dan tanggung jawab dalam melaksanakan keputusan.

Dari perspektif manajemen, John Adair menunjukkan bahwa semakin banyak orang terlibat dalam keputusan yang memengaruhi pekerjaan mereka, semakin besar kemungkinan mereka terdorong untuk melaksanakannya.

Namun, musyawarah bukan berarti setiap keputusan harus melibatkan semua orang. Pemimpin harus memahami konteks. Keputusan strategis yang membutuhkan berbagai perspektif layak dibahas secara kolektif. Sebaliknya, situasi darurat mungkin membutuhkan keputusan cepat.

Prinsipnya adalah: libatkan orang yang tepat, pada tingkat yang tepat, untuk keputusan yang tepat.

Analisis Manfaat dan Risiko

Tidak ada keputusan yang bebas konsekuensi. Karena itu, sebelum menentukan pilihan, seorang pemimpin harus membandingkan manfaat yang diharapkan dengan risiko yang mungkin muncul.

Salah satu cara yang dapat digunakan adalah menguji alternatif berdasarkan kriteria MUST, SHOULD, dan MIGHT. Persyaratan MUST adalah syarat mutlak. Jika sebuah pilihan gagal memenuhi syarat tersebut, ia harus dieliminasi. Setelah itu, barulah kriteria SHOULD dan MIGHT digunakan untuk membedakan pilihan-pilihan yang tersisa.

Pada saat yang sama, pemimpin harus bertanya: Apa yang terjadi jika keputusan ini gagal?

Pertanyaan tersebut penting karena tidak semua risiko memiliki dampak yang sama. Ada risiko yang hanya menimbulkan kerugian kecil dan dapat diperbaiki. Ada pula risiko yang dapat mengancam keberlangsungan organisasi.

Karena itu, pemimpin strategis harus mampu menimbang risiko terhadap manfaat. Tanggung jawab terbesar seorang eksekutif bukan menghilangkan seluruh ketidakpastian—hal itu mustahil—melainkan mengelola ketidakpastian secara bertanggung jawab.

Konsensus: Berbeda dalam Berpikir, Bersatu dalam Bertindak

Konsensus tidak berarti semua orang harus memiliki pendapat yang sama sejak awal. Justru, perbedaan pendapat diperlukan untuk menguji kualitas sebuah keputusan.

Adair mengutip prinsip Alfred Sloan bahwa keputusan yang baik justru membutuhkan perbedaan pandangan. Ketika berbagai perspektif bertemu, kelemahan sebuah gagasan dapat ditemukan sebelum keputusan diterapkan.

Namun, proses tersebut memiliki batas. Setelah keputusan ditetapkan melalui mekanisme yang disepakati, organisasi harus berhenti memperdebatkan pilihan yang telah ditolak dan beralih kepada pelaksanaan keputusan bersama.

Di sinilah kepemimpinan diuji: memberikan ruang yang cukup untuk perbedaan sebelum keputusan, tetapi membangun kesatuan setelah keputusan.

Organisasi tidak akan bergerak jika setiap orang terus mempertahankan pendapatnya setelah keputusan ditetapkan.

Menetapkan Keputusan Akhir

Pada akhirnya, seorang pemimpin harus mengambil keputusan meskipun tidak pernah ada jaminan bahwa pilihannya akan benar seratus persen.

Menunda keputusan terlalu lama juga merupakan sebuah keputusan—dan sering kali keputusan untuk membiarkan keadaan menentukan arah.

Karena itu, setelah alternatif dianalisis, risiko diperhitungkan, dan musyawarah dilakukan, pemimpin harus berani berkata: “Kita memilih jalan ini, dan sekarang kita akan melaksanakannya.”

Dalam perspektif kepemimpinan Islam, keputusan tersebut bukan sekadar tindakan manajerial. Ia adalah amanah. Kekuasaan untuk menentukan arah organisasi harus dipandang sebagai tanggung jawab yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Karena itu, seorang pemimpin harus melakukan dua hal secara seimbang: maksimal dalam ikhtiar dan total dalam tawakal. Ia mengumpulkan informasi, mendengar masukan, menganalisis manfaat dan risiko, bermusyawarah, kemudian menetapkan keputusan dengan keteguhan hati.

Setelah itu, hasilnya diserahkan kepada Allah.

Inilah hakikat langkah kelima dalam Step by Step to Planning: berpikir dengan matang, bermusyawarah dengan bijak, memutuskan dengan berani, lalu bertindak dengan penuh tanggung jawab.

Kualitas seorang pemimpin tidak hanya terlihat dari kemampuannya menemukan jawaban yang benar, tetapi juga dari keberaniannya mengambil keputusan ketika jawaban yang sempurna belum tersedia.(im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.