Penutup: Menjaga Rencana Tetap Hidup

by -1608 Views

Perencanaan bukanlah dokumen yang selesai ketika tinta terakhir dibubuhkan. Justru setelah rencana ditetapkan, pekerjaan sesungguhnya dimulai: memastikan bahwa apa yang direncanakan benar-benar bergerak menuju tujuan. 

Karena itu, organisasi membutuhkan evaluasi, koreksi, dan pembelajaran yang terus-menerus. Dalam perspektif Islam, proses ini memiliki ruh yang kuat dalam konsep muhasabah.

Pentingnya Evaluasi

Robert N. Anthony dalam Management Control Systems menjelaskan bahwa “tiga fase dari proses pengendalian manajemen adalah tindakan perencanaan, pelaksanaan tindakan, dan evaluasi tindakan yang terjadi masing-masing sebelum, selama, dan setelah tindakan atau peristiwa tersebut”. 

Evaluasi menjadi alat deteksi bagi manajemen untuk mengetahui apakah organisasi masih berada pada jalur yang benar.

Dalam tradisi dakwah, Musthafa Masyhur melalui Qadhaya Asasiyyah fid Da’wah menegaskan bahwa “pemimpin bertanggung jawab dalam menilai dan mengevaluasi amal dan hasil setiap saat. Ini penting untuk terjaminnya keselamatan perjalanan da’wah dan pertambahan produktivitasnya”.

Artinya, rencana tanpa evaluasi adalah peta yang tidak pernah diperiksa kembali. Kita mungkin merasa sedang menuju tujuan, padahal arah perjalanan telah bergeser.

Fleksibilitas dalam Perencanaan

Lingkungan selalu berubah. Karena itu, rencana yang baik bukanlah rencana yang kaku, melainkan rencana yang memiliki kemampuan beradaptasi. Anthony mencatat bahwa “informasi yang diperoleh selama proses pengendalian manajemen dapat menyebabkan perubahan pada tujuan”.

Prinsip tersebut sejalan dengan Musthafa Masyhur dalam Al Qiyadah wal Jundiyah: “seluruh sistem dan peraturan harus dipandang sebagai sarana dan alat untuk menyusun dan mengatur kerja dan gerakan. Karena itu peraturan dapat diubah, diganti atau disempurnakan, menurut keperluan berdasarkan pengalaman dan pertimbangan pelaksanaan gerakan”.

Bahkan ditegaskan bahwa “peraturan tidak boleh kaku sehingga menjadi kendala gerakan karena sulitnya penyesuaian”. Inilah prinsip penting bagi pemimpin: konsisten pada tujuan, tetapi fleksibel dalam cara mencapainya.

Continuous Improvement

Evaluasi bukan sekadar mencari kesalahan. Evaluasi adalah bahan bakar bagi continuous improvement. Organisasi harus membandingkan kinerja aktual dengan rencana, menemukan variance, kemudian mencari penyebab dan tindakan korektifnya. Anthony menyebut pencarian ukuran bisnis yang efektif sebagai sebuah “proses evolusi yang berkelanjutan”.

Dalam perspektif Masyhur, muhasabah memungkinkan pemimpin “dapat menentukan aktivitas mana yang positif untuk dikembangkan dan yang negatif untuk diobati atau dibuang”. Karena itu, organisasi harus terus “meningkatkan cara kerja, mengembangkan sarana dan melengkapinya serta memanfaatkan pengalaman baru yang dapat membantu pencapaian tujuan dalam meninggikan mutu da’wah”.

Organisasi yang sehat bukan organisasi yang tidak pernah salah, melainkan organisasi yang mampu belajar lebih cepat dari kesalahannya.

Muhasabah Individu dan Organisasi

Rencana organisasi pada akhirnya dijalankan oleh manusia. Anthony menyebut pengendalian manajemen sebagai “proses yang berorientasi pada orang”. Karena itu, komunikasi, persuasi, kritik, dan umpan balik menjadi bagian penting dari proses pengendalian.

Dalam perspektif dakwah, kedekatan personal tidak boleh menghilangkan akuntabilitas. Masyhur mengingatkan bahwa rasa cinta “tidak boleh menjadi penghalang untuk memeriksa dan meneliti sejauh mana keiltizaman mereka, kemajuannya dalam sistem jama’ah dan aturannya”. 

Pimpinan harus berani memberikan “teguran, kritik atau koreksi terhadap kelalaian dan kesalahannya”.

Menyusun Siklus Perencanaan Berikutnya

Evaluasi bukan titik akhir, melainkan awal dari perencanaan berikutnya. Anthony menggambarkan proses tersebut sebagai “lingkaran tertutup” (closed loop): laporan dan analisis kinerja menjadi masukan bagi pemrograman dan penganggaran berikutnya.

Karena itu, kesalahan masa lalu harus menjadi aset pembelajaran. Hasan al-Banna, sebagaimana dikutip dalam naskah Masyhur, menekankan pentingnya belajar dari “kesalahan masa lampau, menelan kepahitannya, menutup lubang-lubang, menambal yang koyak dan robek”.

Inilah hakikat learning organization: setiap siklus menghasilkan organisasi yang lebih matang daripada siklus sebelumnya.

Perencanaan sebagai Budaya Organisasi

Pada tingkat tertinggi, perencanaan bukan lagi sekadar aktivitas manajemen, tetapi menjadi budaya organisasi. Sistem pengendalian yang baik menciptakan lingkungan ketika setiap anggota memahami target, tanggung jawab, dan ukuran keberhasilannya.

Dalam perspektif Islam, disiplin terhadap sistem yang benar bahkan memiliki dimensi ibadah. Masyhur menjelaskan bahwa “keiltizaman kita dengan peraturan dan sistem kerja tersebut adalah bernilai ‘ibadah dan berada di dalam kerangka taat kepada Allah”.

Dengan demikian, Step by Step to Planning tidak berakhir pada penyusunan rencana. Ia menemukan kesempurnaannya dalam muhasabah: merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi, memperbaiki, lalu merencanakan kembali.

Perencanaan yang matang adalah peta. Eksekusi adalah perjalanan. Muhasabah adalah kompas yang memastikan keduanya tetap menuju arah yang benar. Dengan siklus inilah organisasi dapat menjaga “kelangsungan da’wah berjalan tanpa penyimpangan, kelalaian dan kejatuhan”. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.