Kepemimpinan tidak dimulai ketika seseorang mendapatkan jabatan. Kepemimpinan dimulai jauh sebelumnya, yaitu ketika seseorang belajar memimpin dirinya sendiri.
Seorang pemimpin yang tidak mampu mengendalikan waktu, emosi, kebiasaan, dan egonya akan kesulitan mengarahkan orang lain.
John Adair dalam The Effective Supervisor menegaskan bahwa “kepemimpinan dapat dikembangkan, dan langkah pertamanya adalah keinginan untuk menjadi pemimpin yang lebih baik”.
Keinginan tersebut kemudian harus diterjemahkan menjadi proses pembentukan diri yang terus-menerus.
Self-Awareness: Mengenali Diri Sendiri
Fondasi pertama adalah self-awareness. Pemimpin perlu mengetahui kekuatan, kelemahan, nilai, ambisi, serta keterbatasannya sendiri. John Adair dalam Develop Your Leadership Skills menulis, “Tentu saja kita berbeda dalam hal potensi kepemimpinan, tetapi potensi itu dapat—dan harus—dikembangkan”.
Pemimpin harus berani melakukan evaluasi diri. Adair menyarankan, “Tinjau kemajuan Anda saat profil kekuatan dan kelemahan Anda (dalam hal kepribadian dan karakter) mulai terungkap dan berubah ke arah yang positif”.
Dalam The John Adair Handbook of Management and Leadership, Adair bahkan menawarkan Personal Profile melalui pertanyaan: “Apa kekuatan saya/keterampilan khusus apa yang saya miliki?”, “Apa nilai-nilai saya (yaitu apa yang penting dan berharga bagi saya)?”, “Apa cara yang saya pilih untuk mencari nafkah?”, “Aktivitas/situasi apa yang ingin saya hindari?”, “Prestasi apa yang ingin saya catat sebagai prestasi yang berhasil dipenuhi dalam hidup saya?”, dan “Apa yang saya inginkan menjadi sorotan dalam berita kematian (obituari) saya?”
Mengenai pertanyaan terakhir, Adair menyebutnya sebagai “cara yang sangat baik untuk memfokuskan pikiran”. Ia mendorong seseorang untuk “fokus pada tujuan yang nyata, dapat dicapai, dapat ditentukan, dan terukur, tanpa kehilangan pandangan pada masa depan yang jauh”.
Bahkan one-to-one coaching berfungsi untuk “menarik keluar potensi individu dengan meningkatkan kesadaran diri dan pemahaman”.
Self-Discipline dan Pengendalian Emosi
Mengenali diri saja tidak cukup. Pemimpin harus mampu mengendalikan dirinya. Adair menjelaskan:
“Sifat dari disiplin diri adalah bahwa ia merupakan satu-satunya cara bagi kita untuk menjadi terkendali sekaligus bebas. Jika kontrol atau disiplin dipaksakan kepada kita—sebagaimana kadang-kadang memang harus demikian—kita selalu kehilangan unsur kebebasan”.
Dalam kehidupan organisasi, self-discipline terlihat dari kemampuan menjaga komitmen meskipun tidak ada yang mengawasi. Ia juga tercermin dalam kemampuan mengendalikan emosi. Adair mengajukan pertanyaan penting: “Dapatkah saya mengendalikan emosi dan suasana hati, atau apakah saya membiarkan mereka mengendalikan saya?”
Pemimpin yang mudah dikuasai kemarahan akan sulit menghasilkan keputusan yang jernih. Karena itu, Adair mengutip Lao Tzu: “Dalam mengelola urusan manusia, tidak ada aturan yang lebih baik daripada pengendalian diri”.
Dalam situasi krisis, pemimpin membutuhkan ketenangan seperti digambarkan Rudyard Kipling: “Jika Anda dapat mempertahankan ketenangan kepala Anda ketika orang-orang di sekitar Anda kehilangan ketenangan mereka dan menyalahkannya kepada Anda”.
Integritas: Walk the Talk
Kepemimpinan membutuhkan konsistensi antara ucapan dan tindakan. John Adair mendefinisikan integritas sebagai berikut:
“Integritas. Ini adalah kualitas yang membuat orang memercayai Anda. Dan kepercayaan sangat penting dalam semua hubungan manusia—profesional maupun pribadi. ‘Integritas’ berarti keutuhan pribadi dan kepatuhan pada nilai-nilai di luar diri Anda—terutama kebaikan dan kebenaran”.
Dalam bahasa kepemimpinan modern, prinsip ini dikenal sebagai walk the talk. Pemimpin tidak cukup berbicara mengenai disiplin jika dirinya sendiri tidak disiplin. Tidak cukup menyerukan integritas jika tindakannya justru bertentangan dengan nilai yang disampaikan.
Adair memperingatkan, “Sebab kepemimpinan yang tidak bersandar pada batu karang integritas tidak akan bertahan lama: ia selalu runtuh, dan biasanya lebih cepat daripada yang diperkirakan. Mengapa? Karena begitulah kodrat manusia”.
William Shakespeare memberikan gambaran tajam tentang kemunafikan: “Janganlah, seperti beberapa pendeta yang tidak ramah, menunjukkan kepadaku jalan yang curam dan berduri menuju surga, sementara… dirinya sendiri menempuh jalan kesenangan yang penuh bunga”.
Kebiasaan Pemimpin: Belajar, Mengelola Waktu, dan Energi
Pemimpin dibentuk oleh kebiasaan. Karena itu, lifelong learning harus menjadi bagian dari kehidupan kepemimpinan. Adair menyebut pengalaman sebagai “tumpukan kompos dari kesuksesan dan kegagalan. Buatlah kompos! Tanpa itu, Anda hampir tidak bisa tumbuh sebagai seorang pemimpin”. Ia juga menegaskan bahwa “buku adalah metode terbaik, bersama dengan refleksi atas pengalaman Anda sendiri”.
Pemimpin membutuhkan kemampuan mengambil helicopter view—mundur sejenak dari kesibukan operasional untuk melihat organisasi secara lebih utuh.
Pengelolaan waktu juga menjadi disiplin utama. Peter Drucker, sebagaimana dikutip Adair, mengatakan, “Waktu adalah sumber daya yang paling langka, dan kecuali waktu dikelola, tidak ada hal lain yang dapat dikelola”. Ia juga mengingatkan, “Pastikan Anda tahu ke mana perginya waktu Anda. Jangan bergantung pada ingatan, itu berkhianat”.
Adair mendorong kebiasaan “menyelesaikan urusan hari ini pada hari yang sama”. Ia memperingatkan, “Hindari jebakan kegagalan merencanakan, yang pada kenyataannya adalah merencanakan untuk gagal. Dengan kata lain, jika waktu adalah uang, belanjakanlah dengan bijak”.
Praktiknya dapat menggunakan Adair Urgency/Importance Matrix dan sistem Four-D: “Drop it (Tinggalkan), Delay it (Tunda), Delegate it (Delegasikan), atau Do it (Kerjakan)”.
Waktu juga harus diimbangi energi. Adair mengingatkan bahwa “waktu dan stres adalah pengendara sepeda pada tandem yang sama. Pengelolaan yang buruk pada salah satunya akan mendorong yang lain keluar dari kendali”. Karena itu, tidur, pola makan, olahraga, liburan, dan thinking time merupakan investasi terhadap kapasitas kepemimpinan jangka panjang.
Personal Credibility: Modal Pengaruh
Semua proses tersebut akhirnya membentuk personal credibility. Adair menulis:
“Kredibilitas Anda tumbuh karena keahlian pengetahuan dan keluhuran kepribadian Anda… Anda harus memiliki, meneladankan, dan bahkan mempersonifikasikan kualitas-kualitas yang diharapkan oleh kelompok kerja Anda. Tanpa itu, Anda akan kehilangan kredibilitas”.
Inilah sumber influence yang sesungguhnya. Posisi dapat memaksa orang bekerja, tetapi kredibilitas membuat orang bersedia mengikuti.
Adair kembali mengingatkan melalui Dag Hammarskjöld: “Posisi Anda tidak pernah memberi Anda hak untuk memerintah. Posisi itu hanya membebankan kepada Anda tugas untuk menjalani hidup Anda sedemikian rupa sehingga orang lain dapat menerima perintah Anda tanpa merasa direndahkan”.
Al-Munthalaq: Membangun Jiwa Pemimpin
Muhammad Ahmad Ar-Rasyid dalam Al-Munthalaq memperluas proses pembangunan diri melalui dimensi tarbiyah an-nafs dan muhasabah. Pembentukan pemimpin bukan sekadar peningkatan kompetensi, tetapi penempaan jiwa untuk memikul tanggung jawab sosial.
Ar-Rasyid mengingatkan: “Wahai para zahid ahli ibadah… berangkatlah dengan membawa kebenaran, dan cegahlah kemungkaran, jika tidak… maka konsekuensinya adalah kehancuran”.
Ia juga menegaskan pentingnya belajar dari sejarah: “Sesungguhnya umat-umat dan kelompok-kelompok dihukum berdasarkan perbuatan-perbuatan mereka di dunia ini. Karena itu, Al-Qur’an banyak menceritakan kisah-kisah orang terdahulu dan memerintahkan kita untuk memperhatikan pengalaman umat-umat lain, baik yang masa lalu maupun yang masa kini”.
Dengan demikian, self-leadership bukan proyek memperbesar ego pribadi. Ia adalah proses membangun manusia yang mampu dipercaya, mampu mengendalikan diri, terus belajar, dan siap memikul amanah.
Pemimpin yang efektif pada akhirnya bukanlah manusia yang merasa dirinya telah sempurna, tetapi manusia yang mengenali kekurangannya, terus memperbaikinya, dan menjadikan seluruh proses pertumbuhan dirinya sebagai modal untuk mengembangkan orang lain. (im)
Referensi
- John Adair. Develop Your Leadership Skills.
- John Adair. The Effective Supervisor.
- John Adair. The John Adair Handbook of Management and Leadership.
- Muhammad Ahmad Ar-Rasyid. Al-Munthalaq.






