Jundiyah: Membangun Militansi Sehat untuk Organisasi yang Bertumbuh

by -1009 Views

Oleh: Yadi Mulyadi, SH

Banyak organisasi memiliki visi besar, gagasan kuat, dan narasi inspiratif. Namun dalam praktiknya, tidak sedikit yang berhenti pada level wacana.

Diskusi berjalan aktif. Seminar ramai. Rencana tersusun rapi. Tetapi ketika memasuki tahap implementasi, energi organisasi tiba-tiba melemah.

Di titik inilah pentingnya memahami konsep jundiyah.

Dalam manhaj dakwah kita, jundiyah adalah istilah yang paling dekat dengan makna militansi. Kata ini berasal dari jund, yang secara harfiah berarti pasukan atau tentara.Namun dalam konteks tarbiyah, bisnis dan organisasi, maknanya bukan militerisme literal.

Jundiyah lebih tepat dipahami sebagai: kesiapan beramal, disiplin tinggi, loyalitas terhadap misi, serta kesiapan berkorban demi tujuan bersama. Dengan kata lain, jundiyah adalah soldier spirit dalam arti positif: mentalitas siap kerja, bukan sekadar banyak bicara.

Militansi: Siap Kerja, Bukan Sekadar Semangat

Salah satu problem besar dalam organisasi modern adalah kesenjangan antara semangat dan konsistensi. Banyak orang antusias di awal, tetapi sulit bertahan dalam ritme kerja jangka panjang.

Angela Duckworth dalam buku Grit menulis: “Enthusiasm is common. Endurance is rare.”
Antusiasme itu umum. Daya tahan adalah sesuatu yang langka.

Kalimat ini menjelaskan inti militansi. Militansi bukan ledakan energi sesaat. Ia adalah kapasitas menjaga komitmen dalam jangka panjang.

Dalam konteks organisasi bisnis, militansi tampak dalam bentuk: disiplin eksekusi, daya tahan menghadapi tekanan pasar, dan konsistensi menjalankan strategi.

Dalam politik, militansi berarti kesediaan turun ke masyarakat, menjaga agenda pelayanan publik, dan tidak mudah kehilangan fokus karena dinamika jangka pendek.

Karena itu, organisasi yang sehat tidak hanya membangun orang pintar. Ia membangun militan, yaiu orang-orang yang tahan proses.

Jundiyah dan Leadership Modern

Sebagian orang alergi dengan istilah militansi karena diasosiasikan dengan budaya kaku atau otoriter. Padahal problemnya bukan pada militansi, tetapi pada cara memahaminya.

Militansi sehat berbeda dengan kepatuhan buta. Militansi sehat berangkat dari kesadaran terhadap misi.

Dalam perspektif leadership modern, jundiyah sangat dekat dengan konsep: organizational commitment, ownership, disciplined execution.

Jocko Willink dalam Extreme Ownership menulis “Discipline equals freedom.” Disiplin melahirkan kebebasan.

Maknanya sederhana: tanpa disiplin, organisasi justru terjebak dalam kekacauan. Militansi yang sehat membangun budaya: datang tepat waktu, menyelesaikan amanah (tugas dan tanggungjawab), menjaga standar kualitas, dan konsisten pada prioritas.

Itu bukan budaya represif. Ini adalah budaya profesional.

Dalam Islam sendiri, semangat istiqamah sangat ditekankan. Allah SWT berfirman:Fastaqim kamā umirta. “Maka tetaplah engkau pada jalan yang benar sebagaimana diperintahkan.” (QS. Hud: 112)

Istiqamah adalah bentuk spiritual dari militansi. Bukan emosional, tetapi stabil. Bukan gaduh, tetapi konsisten.

Membangun Militansi yang Sehat

Militansi yang sehat tidak lahir dari tekanan. Ia lahir dari tiga hal.

Pertama, clarity of mission. Anggota harus memahami mengapa mereka bekerja.

Kedua, discipline system.

Militansi memerlukan ritme: target jelas, monitoring rutin, dan evaluasi berkala.

Ketiga, culture of sacrifice. Tidak ada organisasi besar yang tumbuh tanpa pengorbanan.

Waktu, tenaga, kenyamanan, bahkan ego pribadi kadang harus dikorbankan demi tujuan yang lebih besar.

Dalam istilah tarbiyah, ini terkait dengan tadhhiyah: kesiapan berkorban.

Penutup: Militansi sebagai Competitive Advantage

Pada akhirnya, organisasi tidak kekurangan ide, yang sering kurang adalah orang-orang yang siap bekerja konsisten. Di sinilah jundiyah menjadi relevan.

Militansi bukan radikalisme emosional. Militansi adalah daya tahan organisasi. Ia memastikan gagasan berubah menjadi kerja, program berubah menjadi hasil, dan visi berubah menjadi dampak nyata.Dalam dunia bisnis maupun politik yang kompetitif, militansi sehat bukan beban. Justru ia adalah keunggulan kompetitif. Karena organisasi tidak dibangun oleh slogan. Tetapi oleh orang-orang yang siap menunaikan amanah hingga selesai. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.