Regenerasi dan Kaderisasi

by -1486 Views

Dalam Step by Step to Staffing, keberhasilan organisasi tidak cukup diukur dari kemampuan memilih dan menempatkan orang yang tepat hari ini. 

Pertanyaan yang lebih strategis adalah: siapa yang akan melanjutkan kepemimpinan esok hari? Organisasi yang sehat tidak bergantung pada satu figur, tetapi memiliki sistem yang mampu melahirkan pelanjut secara berkesinambungan.

John Adair dalam Effective Strategic Leadership menyebut salah satu fungsi inti pemimpin strategis adalah “memilih pemimpin hari ini dan mengembangkan pemimpin masa depan”. 

Musthafa Masyhur dalam Al Qiyadah wal Jundiyah juga menegaskan tanggung jawab pimpinan untuk “menyiapkan kader dan calon pengganti”. Karena itu, regenerasi bukan peristiwa kebetulan, melainkan hasil dari desain staffing yang direncanakan sejak awal.

Succession Planning

Instrumen utama regenerasi adalah succession planning atau perencanaan suksesi. Adair menyebut salah satu legacy terpenting seorang pemimpin adalah “mengidentifikasi pengganti yang tepat, baik dari dalam maupun luar organisasi, untuk mengambil alih kemudi”. 

Sebaliknya, “kegagalan untuk menemukan penerus yang tepat telah terbukti membawa bencana bagi banyak perusahaan besar”.

Dalam perspektif Masyhur, pimpinan bahkan harus secara sadar “mempersiapkan lapisan pemimpin yang akan menggantikannya jika dia undur dari kepemimpinan dengan sebab-sebab tertentu”. 

Sikap pemimpin terhadap calon pengganti juga menjadi ukuran kedewasaan kepemimpinan. Seorang pemimpin sejati “harus merasa gembira jika ia mendapatkan calon pemimpin yang mempunyai kelaikan sebagai penggantinya”.

Identifikasi Talenta

Regenerasi dimulai dengan kemampuan menemukan talenta. Adair mencatat salah satu kelemahan umum pemimpin strategis adalah “kurangnya penilaian terhadap orang lain” (lack of judgement about people). 

Calon pemimpin tidak boleh dipilih hanya berdasarkan kesan sesaat, kedekatan, atau popularitas. Dibutuhkan pengamatan terhadap karakter, kompetensi, konsistensi, dan rekam kinerja.

Musthafa Masyhur memberikan prinsip yang tegas agar pimpinan “berhati-hati dalam memilih calon pemimpin jama’ah, apapun kedudukannya” dan “menjauhkan sikap pilih kasih dan klik-klikan”. Bahkan, “orang yang terlalu bersemangat sebenarnya sangat berbahaya kalau didudukkan di tempat strategis” apabila semangat tersebut tidak disertai kesabaran, kedewasaan, dan keteguhan.

Artinya, talent identification harus melihat keseluruhan profil seseorang, bukan hanya satu kelebihan.

Pengembangan Calon Pemimpin

Talenta yang ditemukan tidak otomatis menjadi pemimpin. Mereka harus dikembangkan melalui pengalaman. Adair menyarankan pemimpin untuk “mengenal orang-orangnya dan memilih pemimpin” sekaligus “memberikan peluang kepada kolega untuk tumbuh sebagai pemimpin operasional dan strategis”.

Disinilah delegasi memiliki fungsi strategis. Delegasi bukan sekadar memindahkan pekerjaan dari atasan kepada bawahan, tetapi menjadi “sarana untuk mengembangkan kolega” melalui tugas-tugas yang menantang.

Namun, pengembangan bukan hanya tanggung jawab atasan. Calon pemimpin juga harus mempersiapkan dirinya. Masyhur menegaskan bahwa “seorang anggota jama’ah di manapun ia bertugas harus mempersiapkan diri untuk menjadi panglima” dan “bersedia memikul amanah pimpinan tatkala tiba masanya”. 

Dengan demikian, regenerasi merupakan proses dua arah: organisasi menyediakan kesempatan, sementara kader menunjukkan kesiapan.

Kaderisasi

Dalam perspektif tarbiyah, proses tersebut disebut kaderisasi. Hasan al-Banna, sebagaimana dikutip Masyhur, merumuskan prosesnya dengan “mempersiapkan anggota-anggota jama’ah secara berangsur-angsur (tajarrud) melalui tahap pengenalan (ta’-rif), pembentukan (takwin) dan pelaksanaan (tanfidz)”. Kaderisasi bahkan disebut sebagai “asas kekuatan dan keutuhan suatu gerakan”.

Ali Abdul Halim Mahmud dalam Wasa’ilut Tarbiyah menegaskan bahwa tarbiyah melahirkan “generasi penerus, pewaris dan pendukung beban, amal, usaha, jihad dan pengorbanan dalam suasana persaudaraan dan kasih sayang”. 

Kaderisasi juga membentuk kematangan untuk “menerima kesalahan masa lampau, menelan kepahitannya, menutup lubang-lubang, serta menambal yang koyak dan robek demi menyelamatkan generasi kita”.

Keberlanjutan Organisasi

Regenerasi akhirnya harus menciptakan kesinambungan antargenerasi. Masyhur menekankan pentingnya “memadukan antara generasi pertama dengan generasi penerus di setiap peringkat pimpinan dan gerakan, supaya tidak terjadi kesenjangan”. 

Dengan demikian, “generasi penerus ini akan menggantikan generasi pertama dengan menimba dan mengambil manfaat dari pengalaman dan kemahiran generasi sebelumnya”, sehingga mereka “tidak bekerja dari nol lagi”.

Pada titik inilah staffing menemukan makna strategisnya. Organisasi bukan sekadar mengisi jabatan yang kosong, tetapi membangun rantai kepemimpinan yang tidak terputus. Sebagaimana Adair mengingatkan, “tidak ada yang lebih penting daripada meninggalkan sebuah organisasi yang merasa percaya diri akan masa depannya dan merasa seperti seorang pemenang”.

Dengan regenerasi dan kaderisasi yang sistematis, organisasi tidak bergantung pada satu generasi. Ia memiliki aliran talenta yang terus tumbuh, belajar, dan mengambil tanggung jawab, sehingga gerakan dapat berjalan pada khitahnya “tanpa penyimpangan, kelalaian dan kejatuhan”. (im)

Referensi

Al Qiyadah wal Jundiyah — Musthafa Masyhur

Wasa’ilut Tarbiyah ‘indal Ikhwanil Muslimin — Ali Abdul Halim Mahmud

Majmu’ah Rasail — Hasan al-Banna

Effective Strategic Leadership — John Adair

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.