Banyak konflik dalam organisasi, justru muncul karena struktur kerja yang tidak sinkron, pembagian tugas yang kabur, atau koordinasi yang lemah.
Ketika hal ini terjadi, masalah yang tampak sederhana dapat berkembang menjadi friksi berkepanjangan yang menguras energi organisasi.
Drs. T. Soemarman, M.S.Ed. dalam Conflict Management & Capacity Building menjelaskan bahwa konflik pekerjaan memiliki karakteristik khusus karena para pihak yang terlibat berada dalam hubungan yang saling bergantung (interdependent). Artinya, keberhasilan satu bagian sangat dipengaruhi oleh kinerja bagian lainnya.
Dalam konteks dakwah, kondisi ini terjadi dalam amal jama’i (teamwork atau kerja kolektif), dimana setiap individu dan unit memiliki kontribusi terhadap pencapaian ghayah (strategic goals) organisasi.
Ketika Ketergantungan Menjadi Sumber Konflik
Semakin tinggi tingkat saling ketergantungan antarunit, semakin besar pula potensi konflik yang muncul. Soemarman menegaskan bahwa biaya penyelesaian konflik akan semakin mahal ketika hubungan kerja antarpihak sangat erat.
Fenomena ini sangat familiar dalam dunia bisnis. Divisi pemasaran membutuhkan dukungan produksi. Produksi bergantung pada pengadaan. Pengadaan membutuhkan dukungan keuangan. Ketika satu mata rantai terganggu, seluruh sistem ikut terdampak.
Dalam buku Management Control Systems, Anthony, Dearden, dan Bedford menjelaskan bahwa konflik sering muncul ketika sumber daya yang terbatas diperebutkan oleh berbagai unit organisasi.
Tanpa aturan yang jelas, setiap pihak akan merasa kepentingannya paling penting.
Karena itu, akar penyelesaian konflik tugas bukan semata-mata memperbaiki hubungan antarorang, tetapi memperjelas sistem kerja, kewenangan, dan mekanisme koordinasi.
Sistem yang Jelas Mengurangi Friksi
Banyak organisasi gagal bukan karena kekurangan orang baik, melainkan karena tidak memiliki sistem yang baik.
Syaikh Musthafa Masyhur dalam Al Qiyadah wal Jundiyah menegaskan pentingnya mengikuti sistem, tata tertib, dan aturan yang mengatur seluruh aktivitas organisasi. Dalam bahasa manajemen modern, inilah yang disebut Management Control System dan Standard Operating Procedures (SOP).
Peter Drucker pernah mengatakan: “Management is doing things right; leadership is doing the right things.” Manajemen adalah melakukan sesuatu dengan benar, sedangkan kepemimpinan adalah melakukan hal yang benar.
Keduanya harus berjalan beriringan. Kepemimpinan tanpa sistem akan melahirkan kekacauan. Sebaliknya, sistem tanpa kepemimpinan akan menjadi dokumen yang tidak bernyawa.
Ketika aturan menjadi rujukan bersama, perbedaan pendapat tidak lagi diselesaikan berdasarkan kedekatan personal atau kekuatan pengaruh, melainkan berdasarkan standar yang telah disepakati.
Disiplin Operasional Setelah Keputusan Dibuat
Salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam organisasi adalah semua orang ingin terlibat dalam pengambilan keputusan, tetapi tidak semua siap menjalankan hasil keputusan tersebut.
Dalam manhaj dakwah, konsep ini dikenal sebagai tha’ah yang dalam bahasa manajemen dapat diterjemahkan sebagai operational discipline atau disiplin operasional.
John Adair dalam Not Bosses But Leaders menulis: “The more people participate in making decisions, the more committed they become to implementing them.” Semakin besar keterlibatan seseorang dalam proses pengambilan keputusan, semakin besar pula komitmennya untuk melaksanakan keputusan tersebut.
Musyawarah (syura) memberikan ruang bagi setiap orang untuk menyampaikan pendapat. Namun setelah keputusan diambil, organisasi membutuhkan kesatuan gerak. Tanpa disiplin eksekusi, setiap keputusan hanya akan menjadi bahan diskusi tanpa realisasi.
Dalam dunia politik maupun bisnis, organisasi yang kuat bukanlah organisasi yang bebas konflik, melainkan organisasi yang mampu bergerak bersama setelah keputusan dibuat.
Peran Pemimpin sebagai Integrator
Disinilah peran qiyadah (strategic leadership) menjadi sangat penting. Pemimpin harus mampu mengintegrasikan berbagai unit yang memiliki kepentingan, karakter, dan tantangan yang berbeda.
John Adair mengingatkan bahwa seorang pemimpin harus memberi arah yang jelas, namun juga memberikan ruang kepada bawahannya untuk menjalankan tugas secara profesional. Kepemimpinan bukan soal mengendalikan setiap detail, melainkan memastikan semua bagian bergerak menuju tujuan yang sama.
Pemimpin yang efektif memahami kapan harus mengarahkan, kapan harus mendelegasikan, dan kapan harus melakukan pengawasan.
Pada akhirnya, resolusi konflik dalam tugas-tugas pergerakan bukan hanya persoalan hubungan manusia, melainkan persoalan desain organisasi.
Ketika sistem berjalan baik, disiplin dijaga, dan kepemimpinan berfungsi efektif, energi organisasi tidak akan habis untuk konflik internal. Sebaliknya, seluruh potensi dapat difokuskan untuk mencapai visi besar organisasi secara produktif dan berkelanjutan. (im)





