Banyak organisasi lahir dengan semangat yang besar, tetapi gagal bertahan karena melakukan kesalahan sejak awal: membentuk struktur organisasi sebelum menetapkan tujuan.
Kepengurusan dibentuk, jabatan dibagikan, divisi dibuat, tetapi tidak ada kesepahaman mengenai arah yang ingin dicapai. Akibatnya, organisasi sibuk bekerja tanpa benar-benar bergerak menuju tujuan yang sama.
Dalam perspektif strategic management, tujuan (objectives) merupakan titik awal seluruh proses manajemen. Perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), kepemimpinan (leading), hingga pengendalian (controlling) semuanya bertolak dari tujuan yang telah ditetapkan.
Organisasi yang sehat selalu dibangun dengan prinsip purpose drives organization, bukan sebaliknya.
Visi: Gambaran Masa Depan yang Menggerakkan
Visi (ghāyah – strategic vision) adalah gambaran mengenai masa depan yang ingin diwujudkan. Ia bukan sekadar slogan, tetapi arah jangka panjang yang menjadi sumber inspirasi bagi seluruh anggota organisasi.
Michael A. Hitt dalam Strategic Management: Competitiveness and Globalization menjelaskan:
“A vision is a picture of what the firm wants to be and, in broad terms, what it wants to ultimately achieve.”
“Visi adalah gambaran tentang ingin menjadi apa sebuah organisasi dan, secara luas, apa yang ingin dicapai pada akhirnya.”
Visi yang baik harus mampu membangkitkan optimisme sekaligus memberikan orientasi strategis. Dalam dunia bisnis, visi menjadi kompas perusahaan. Dalam dunia politik, visi menjadi arah kebijakan. Dalam dakwah, visi menjadi cita-cita besar yang menyatukan langkah seluruh kader.
Tanpa visi yang jelas, organisasi hanya akan bergerak mengikuti dinamika sesaat tanpa arah yang pasti.
Misi: Menerjemahkan Visi Menjadi Aksi
Apabila visi menjawab pertanyaan “akan menjadi apa?”, maka misi (risālah – organizational mission) menjawab “apa yang harus dikerjakan?”
Michael A. Hitt menjelaskan:
“A mission specifies the businesses in which the firm intends to compete and the customers it intends to serve.”
“Misi menjelaskan bidang yang akan digeluti organisasi serta pihak yang akan dilayaninya.”
Misi memberikan batas yang jelas mengenai ruang gerak organisasi. Ia menjelaskan identitas, kompetensi utama (core competence), serta nilai yang ditawarkan kepada masyarakat.
Dengan demikian, setiap program dan aktivitas dapat dievaluasi apakah benar-benar mendukung misi organisasi atau justru menyimpang dari arah yang telah ditetapkan.
Tujuan Harus Jelas dan Terukur
Setelah visi dan misi dirumuskan, langkah berikutnya adalah menetapkan tujuan (objectives). Harold Koontz dalam Management menegaskan:
“Objectives, or goals, are the ends toward which activities are aimed.”
“Tujuan atau sasaran adalah hasil akhir yang menjadi arah seluruh aktivitas organisasi.”
Dalam perspektif dakwah, kejelasan tujuan merupakan fondasi keberhasilan. Musthafa Masyhur dalam Qadhaya Asasiyyah fid Da’wah menegaskan:
“Hendaknya ghāyah (tujuan) yang akan dicapai harus jelas sejelas-jelasnya, tanpa ada yang tersembunyi sedikit pun. Kejelasan tujuan ini merupakan dasar qadhiyyah, orbit keberhasilan dan kemenangan.”
Pernyataan tersebut memiliki makna yang sangat relevan bagi organisasi modern. Organisasi yang tidak memiliki tujuan yang jelas akan mudah kehilangan fokus, berubah arah mengikuti tekanan lingkungan, bahkan mengalami konflik internal karena setiap orang memiliki persepsi yang berbeda mengenai prioritas organisasi.
Sasaran dan Indikator Keberhasilan
Tujuan yang baik harus dapat diukur. Dalam manajemen modern dikenal konsep verifiable objectives, yaitu sasaran yang keberhasilannya dapat diverifikasi.
Harold Koontz menjelaskan:
“An objective is verifiable when, at the target date in the future, it is possible to determine whether the objective has been achieved or not.”
“Sebuah tujuan disebut dapat diverifikasi apabila pada waktu yang telah ditentukan dapat dipastikan apakah tujuan tersebut tercapai atau tidak.”
Dalam dakwah, sasaran besar tidak dapat diwujudkan sekaligus. Ia memerlukan tahapan yang sistematis. Pembentukan fardul Muslim (individual excellence), kemudian baitul Muslim (family development), hingga mujtama’ul Muslim (community development) merupakan contoh penyusunan sasaran secara bertahap (strategic milestones) yang memudahkan evaluasi dan pengendalian organisasi.
Menentukan Prioritas dan Menyesuaikan Struktur
Tidak semua tujuan dapat dikerjakan secara bersamaan. Keterbatasan sumber daya menuntut pemimpin menentukan prioritas (strategic priorities).
Harold Koontz menjelaskan:
“The selection of short-range objectives should be derived from an evaluation of priorities related to long-range objectives.”
“Pemilihan tujuan jangka pendek harus berasal dari evaluasi prioritas yang berkaitan dengan tujuan jangka panjang.”
Prinsip ini melahirkan salah satu teori paling penting dalam manajemen organisasi, yaitu Structure Follows Strategy.
Alfred D. Chandler menunjukkan bahwa struktur organisasi harus mengikuti strategi yang dipilih. Michael A. Hitt memperkuat temuan tersebut dengan menyatakan bahwa kinerja organisasi akan menurun apabila strategi tidak didukung oleh struktur dan sistem pengendalian yang tepat.
Prinsip ini sejalan dengan analogi yang disampaikan Musthafa Masyhur:
“Setiap bangunan memerlukan peletakan dasar dan fondasi yang kuat… Semakin besar dan tinggi sebuah bangunan, semakin diperlukan fondasi yang dalam dan kuat.”
Organisasi tidak boleh dibangun berdasarkan selera penyusunan jabatan, melainkan berdasarkan kebutuhan strategi. Struktur hanyalah alat (organizational architecture), sedangkan tujuan tetap menjadi penentu arah.
Sebagai penegasan, Sa’id Hawwa dalam Jundullah Takhthīthan mengingatkan:
“Amal Islami harus berjalan dengan takhthīth (perencanaan) yang teliti, tidak boleh asal-asalan, spontanitas atau reaksioner.”
Perencanaan yang matang selalu dimulai dari penetapan visi, misi, tujuan, sasaran, dan prioritas. Setelah semuanya jelas, barulah struktur organisasi disusun. Dengan demikian, setiap jabatan memiliki fungsi, setiap fungsi mendukung strategi, dan setiap strategi mengantarkan organisasi menuju tujuan besarnya. (im)






