Tidak ada fungsi kepemimpinan yang lebih menentukan selain decision making. Visi yang hebat hanya akan menjadi wacana apabila tidak diwujudkan melalui keputusan yang tepat.
Harold Koontz dalam Essentials of Management menegaskan, “Decision making is the selection from among alternatives of a course of action; it is the core of planning.” “Pengambilan keputusan adalah proses memilih satu alternatif tindakan dari berbagai pilihan yang tersedia; inilah inti dari perencanaan.”
Keputusan bukan sekadar aktivitas intelektual, tetapi bagian dari amanah kepemimpinan. Musthafa Masyhur mengingatkan, “Kekuatan dan kesadaran serta kemampuan prima seorang pemimpin sangat menentukan kekuatan gerakan.”
Sebaliknya, lemahnya kualitas keputusan akan melemahkan organisasi sekalipun memiliki sumber daya yang besar.
Syura: Collective Decision Making
Islam memperkenalkan Syura (Collaborative Decision Making) sebagai mekanisme utama dalam menghasilkan keputusan yang berkualitas. Syura bukan sekadar meminta pendapat, melainkan membangun kepemilikan bersama (shared ownership) terhadap keputusan yang diambil.
Musthafa Masyhur menulis: “Pemimpin harus bermusyawarah dengan para pembantunya sebelum mengeluarkan keputusan penting. Hal ini akan melahirkan rasa kebersamaan, kerja sama, dan tolong-menolong dalam memikul tanggung jawab.”
Pandangan ini sejalan dengan konsep consensus building dalam kepemimpinan modern. John Adair menjelaskan: “Consensus means that everyone is prepared to accept the decision, even if it is not everyone’s first choice.” Konsensus berarti setiap orang siap menerima keputusan, meskipun keputusan tersebut bukan pilihan utama masing-masing.
Proses syura yang baik meningkatkan kualitas keputusan sekaligus memperkuat komitmen tim dalam melaksanakan keputusan tersebut.
Data-Driven Decision dan Manajemen Risiko
Era modern menuntut pemimpin mengambil keputusan berdasarkan fakta, bukan intuisi semata. Pendekatan ini dikenal sebagai Data-Driven Decision Making.
John Adair menawarkan lima langkah sederhana: “Define the objective; Collect relevant information; Generate feasible options; Make the decision; Implement and evaluate.” Tentukan tujuan; kumpulkan informasi yang relevan; susun berbagai alternatif; ambil keputusan; kemudian laksanakan dan evaluasi.
Namun data saja tidak cukup. Harold Koontz mengingatkan pentingnya mengenali faktor pembatas (The Principle of the Limiting Factor). Menurutnya, “The more an individual can recognize the limiting factors, the better the decision.” Semakin mampu seseorang mengenali faktor-faktor pembatas, semakin baik keputusan yang dapat diambil.
Kehati-hatian tersebut dikenal sebagai menjauhi Tahawwur (Reckless Decision Making). Musthafa Masyhur memperingatkan bahwa keberanian yang tidak disertai perhitungan hanya akan menghasilkan kerugian. Pemimpin harus berani, tetapi keberaniannya didasarkan pada ilmu, analisis, dan pertimbangan yang matang.
Karena itu, setiap keputusan strategis harus selalu disertai Risk Management, yaitu mengidentifikasi peluang, ancaman, skenario terburuk, dan rencana mitigasi sebelum keputusan dijalankan.
Crisis Leadership: Ketegasan di Tengah Ketidakpastian
Situasi normal membutuhkan musyawarah yang luas. Sebaliknya, situasi krisis membutuhkan kecepatan.
John Adair memberikan ilustrasi menarik:*”When a fire officer is rescuing your family from a burning house, you do not complain that he is being autocratic.” Ketika seorang komandan pemadam kebakaran sedang menyelamatkan keluarga Anda dari rumah yang terbakar, Anda tidak akan mengeluh karena ia bersikap terlalu otoriter.
Artinya, dalam kondisi darurat, Crisis Leadership menuntut pemimpin mengambil keputusan cepat berdasarkan informasi terbaik yang tersedia.
Musthafa Masyhur menambahkan bahwa pemimpin harus tampil dengan keteguhan hati. “Pemimpin dituntut menghadapi semua itu dengan tekad penuh kekuatan, hikmah, tegar, yakin dan tidak mudah menyerah.”
Kepanikan pemimpin akan menular kepada organisasi. Sebaliknya, ketenangan pemimpin akan menjadi sumber kepercayaan bagi seluruh anggota tim.
Integrasi: Syura, Data, dan Pengalaman Lapangan
Pengambilan keputusan terbaik bukanlah hasil dominasi satu pendekatan, melainkan integrasi tiga unsur utama: Syura (Collaborative Decision Making), Data-Driven Analysis dan Field Experience (Experiential Leadership).
Data memberikan objektivitas. Syura memperkaya perspektif. Pengalaman lapangan menghadirkan intuisi yang lahir dari praktik panjang. Ketiga unsur tersebut menghasilkan keputusan yang lebih matang daripada hanya mengandalkan salah satunya.
John Adair mengingatkan bahwa “Authority flows from the person who knows.” Otoritas mengalir dari orang yang benar-benar mengetahui. Pengetahuan tersebut bukan hanya berasal dari teori, tetapi juga dari pengalaman, integritas, dan kebijaksanaan.
Sebagaimana dijelaskan Adair, “Wisdom is a harmonious blend of goodness, reason and experience.” Kebijaksanaan adalah perpaduan yang selaras antara kebaikan, nalar, dan pengalaman.
Seorang pemimpin tidak cukup hanya menjadi analis yang cerdas atau komunikator yang baik. Ia harus mampu mengintegrasikan nilai-nilai syariat, data yang akurat, dan realitas lapangan menjadi keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan dihadapan organisasi maupun Allah SWT.
Kepemimpinan yang unggul lahir bukan dari keputusan yang selalu sempurna, tetapi dari proses pengambilan keputusan yang benar, objektif, dan penuh amanah. (im)






