Penutup: Tarbiyah Melahirkan Pemimpin Penggerak Perubahan

by -1538 Views
Free ebook: The Art of Decision Making, Yadi Mulyadi.

Setiap perjalanan kepemimpinan selalu diawali oleh proses pembelajaran. Tidak ada seorangpun yang lahir sebagai pemimpin. Kepemimpinan dibentuk melalui pengalaman, pembinaan, kegagalan, evaluasi, dan kesediaan untuk terus memperbaiki diri. Karena itu, perjalanan seorang aktivis menuju seorang pemimpin bukanlah perubahan jabatan, melainkan perubahan kapasitas.

John Adair menegaskan, “Leaders are not born; they grow.” Pemimpin tidak dilahirkan; mereka bertumbuh.

Pernyataan tersebut sejalan dengan ruh tarbiyah. Tarbiyah bukan sekadar proses membentuk pribadi yang saleh, tetapi proses sistematis membangun manusia yang mampu menggerakkan perubahan. 

Musthafa Masyhur menegaskan, “Tarbiyyah inilah yang dapat mempersiapkan generasi penerus, pewaris dan pendukung beban, amal, usaha, jihad dan pengorbanan dalam suasana persaudaraan dan kasih sayang.”

Tujuan akhirnya bukan hanya menghasilkan orang baik, melainkan melahirkan qiyadah (leadership) yang mampu membangun organisasi, masyarakat, bahkan peradaban.

Imam Hasan Al-Banna menggambarkan profil kader yang diharapkan: “Kami menghendaki Akh Muslim Mujahid yang produktif dan bijak, yang dakwahnya, dengan tenaga dan waktu yang sedikit, membuahkan hasil maksimal.”

Inilah makna produktivitas dalam perspektif Islam: menghadirkan manfaat sebesar-besarnya dengan sumber daya yang dimiliki.

Qiyadah dan Idarah Harus Berjalan Bersama

Sepanjang pembahasan buku ini, satu pelajaran besar terus berulang. Organisasi yang hebat tidak dibangun hanya oleh visi besar, dan juga tidak cukup ditopang oleh administrasi yang rapi. Keberhasilan lahir ketika qiyadah (leadership) dan idarah (management) berjalan beriringan.

Qiyadah tanpa idarah melahirkan idealisme yang indah, tetapi gagal diwujudkan. John Adair mengingatkan, “Strategic leadership is not just strategic planning. That’s the easy part. The difficult part is making it happen.” Kepemimpinan strategis bukan sekadar membuat rencana strategis. Itu bagian yang mudah. Bagian yang sulit adalah mewujudkannya.

Visi memerlukan sistem. Inspirasi memerlukan eksekusi. Sebab, sebagaimana ditegaskan Musthafa Masyhur, “Tanpa perencanaan dan keteraturan administrasi, sumber kekuatan pun akan melemah.”

Sebaliknya, idarah tanpa qiyadah akan menghasilkan organisasi yang efisien tetapi kehilangan jiwa. Semua prosedur berjalan, rapat terlaksana, laporan tersusun, namun organisasi kehilangan semangat perubahan.

Musthafa Masyhur mengingatkan, “Seorang pemimpin tidak wajar mengkonsentrasikan segenap kegiatannya dalam urusan administrasi semata… jika aspek ruhani ini dilalaikan, maka amal usahanya menjadi kerja rutin, tanpa ruh.”

Dalam bahasa Peter Drucker, “Management is doing things right; leadership is doing the right things.” Manajemen adalah mengerjakan sesuatu dengan benar; kepemimpinan adalah mengerjakan hal yang benar.

Organisasi memerlukan keduanya sekaligus.

Menjadi Pemimpin yang Relevan Sepanjang Zaman

Perubahan zaman tidak pernah berhenti. Revolusi digital, Artificial Intelligence, ekonomi berbasis pengetahuan, hingga perubahan sosial yang sangat cepat akan terus menguji kemampuan setiap pemimpin.

Jim Collins dalam Good to Great menulis, “Great vision without great people is irrelevant.”
“Visi yang hebat tanpa orang-orang hebat tidak akan berarti.”

Investasi terbesar seorang pemimpin bukanlah gedung, anggaran, ataupun teknologi, melainkan manusia. Tugas pemimpin adalah membangun kader, memperluas kapasitas tim, serta menciptakan budaya belajar yang terus berkembang.

John Adair memberikan prinsip yang sangat mendasar, “Leadership is action, not position.”
“Kepemimpinan adalah tindakan, bukan kedudukan.”

Jabatan hanyalah amanah sementara. Yang akan dikenang adalah manfaat yang ditinggalkan, kader yang berhasil dibina, dan organisasi yang tetap bertumbuh setelah pemimpinnya selesai bertugas.

Pada akhirnya, kepemimpinan bukanlah tentang menjadi orang yang paling hebat, tetapi tentang membuat orang lain menjadi lebih hebat. 

Sebagaimana kalimat penutup John Adair yang sangat indah, “The task of leadership is not to put greatness into people, but to elicit it, for the greatness is there already.” Tugas kepemimpinan bukan menanamkan kebesaran ke dalam diri manusia, melainkan memunculkan kebesaran yang sesungguhnya telah ada dalam dirinya.

Semoga setiap proses tarbiyah mampu melahirkan pemimpin-pemimpin yang memadukan qiyadah (leadership) dan idarah (management), sehingga perubahan yang dibangun tidak berhenti pada slogan, tetapi terwujud dalam karya nyata yang terencana, berkelanjutan, dan membawa maslahat bagi umat, bangsa, serta kemanusiaan. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.