Strategic Thinking: Cara Berpikir Sebelum Bertindak

by -1340 Views

Organisasi politik hampir selalu memiliki banyak hal untuk dikerjakan. Ada rapat yang harus diselenggarakan, program yang harus dijalankan, aspirasi yang harus ditindaklanjuti, kegiatan masyarakat yang harus dihadiri, komunikasi yang harus dilakukan, serta berbagai persoalan internal yang membutuhkan perhatian.

Kesibukan seperti itu seringkali menciptakan ilusi bahwa organisasi sedang bergerak maju. Padahal, bergerak belum tentu berarti maju.

Sebuah organisasi dapat sangat sibuk, tetapi tidak semakin dekat dengan tujuan strategisnya. Program dapat bertambah, rapat semakin sering, komunikasi semakin intensif, tetapi persoalan mendasar tetap tidak berubah.

Disinilah strategic thinking menjadi penting.

Berpikir strategis bukan sekadar kemampuan membuat rencana. Ia adalah kemampuan untuk memahami realitas sebelum mengambil keputusan, menemukan persoalan yang paling menentukan, memilih prioritas, dan mengarahkan berbagai tindakan agar saling memperkuat.

Apa Itu Strategic Thinking?

Strategic thinking atau berpikir strategis sering disalahpahami sebagai kemampuan menetapkan cita-cita besar. Padahal, visi yang tinggi belum tentu menunjukkan pemikiran strategis.

Slogan yang menarik bukan strategi. Target yang ambisius bukan strategi. Banyaknya program juga bukan strategi.

Richard Rumelt dalam Good Strategy/Bad Strategy menempatkan strategi sebagai proses berpikir yang terstruktur untuk menemukan faktor kritis dalam sebuah situasi dan kemudian mengoordinasikan tindakan untuk mengatasinya.

Intinya sederhana: strategi dimulai dari realitas, bukan dari keinginan.

Organisasi harus terlebih dahulu memahami kondisi yang dihadapi. Apa tantangannya? Mengapa persoalan tersebut terjadi? Faktor apa yang paling menentukan? Apa yang sebenarnya berada dalam kendali organisasi? Dan pilihan apa yang tersedia?

Disinilah perbedaan antara organisasi yang strategis dan organisasi yang sekadar aktif.

Peter F. Drucker bahkan mengingatkan bahwa dalam pengambilan keputusan, menemukan pertanyaan yang tepat seringkali lebih penting daripada menemukan jawaban yang tepat. Jawaban yang benar terhadap pertanyaan yang salah tetap dapat menghasilkan keputusan yang keliru.

Berpikir strategis dimulai dengan problem framing—kemampuan merumuskan persoalan secara tepat.

Sebuah organisasi mungkin mengatakan: “Partisipasi anggota (kader) menurun.” Tetapi itu baru gejala.

Pertanyaan strategisnya adalah:

  • Mengapa partisipasi menurun?
  • Apakah masalahnya pada kepemimpinan?
  • Apakah program tidak relevan?
  • Apakah komunikasi tidak efektif?
  • Apakah struktur organisasi terlalu birokratis?
  • Apakah anggota tidak memahami peran mereka?
  • Atau terdapat perubahan lingkungan eksternal yang belum direspons?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa organisasi dari gejala menuju diagnosis.

John M. Bryson, Fran Ackermann, dan Colin Eden dalam Visual Strategy menempatkan perencanaan strategis sebagai proses deliberatif dan disiplin yang menghasilkan keputusan serta tindakan mendasar mengenai apa organisasi, apa yang dilakukan, dan mengapa organisasi melakukannya.

Dengan demikian, strategic thinking bukan sekadar berpikir lebih jauh. Ia adalah berpikir lebih jernih.

Berpikir Jangka Panjang: Melihat Hari Ini dan Masa Depan

Organisasi politik bekerja dalam dua dimensi waktu. Pertama, tekanan hari ini. Kedua, arah masa depan. Keduanya tidak boleh dipertentangkan.

Organisasi yang hanya memikirkan masa depan dapat kehilangan relevansi hari ini. Sebaliknya, organisasi yang hanya mengejar persoalan hari ini dapat kehilangan masa depan.

Peter Drucker menggambarkan tugas manajemen sebagai kemampuan mengharmoniskan kebutuhan masa kini dengan kebutuhan masa depan. Seorang pemimpin harus tetap menghadapi pekerjaan yang ada di depan mata, tetapi pada saat yang sama mampu melihat jauh ke depan.

Inilah salah satu tantangan terbesar kepemimpinan organisasi politik.

Peristiwa hari ini seringkali memiliki daya tarik yang sangat kuat. Sebuah isu yang sedang ramai di media sosial, sebuah kritik publik, sebuah konflik internal, atau sebuah agenda mendadak dapat menyerap seluruh energi organisasi.

Masalahnya bukan karena isu tersebut tidak penting. Masalah muncul ketika setiap isu dianggap sebagai prioritas strategis. Jika semua hal dianggap mendesak, organisasi kehilangan kemampuan menentukan apa yang benar-benar penting.

Berpikir jangka panjang berarti memiliki kemampuan untuk mengatakan:  “Apa yang kita lakukan hari ini akan membuat organisasi seperti apa tiga, lima, atau sepuluh tahun mendatang?” Pertanyaan tersebut memaksa organisasi melihat konsekuensi keputusan melampaui siklus kegiatan.

Jim Collins dan Jerry Porras dalam Built to Last menunjukkan pentingnya envisioned future—gambaran masa depan yang menuntut organisasi berpikir melampaui kemampuan dan kondisi saat ini.

Namun berpikir jangka panjang bukan berarti meramal masa depan secara pasti. Justru sebaliknya.

Kita tidak pernah memiliki informasi sempurna tentang masa depan. Karena itu, yang dibutuhkan adalah arah yang cukup jelas dan kemampuan untuk terus belajar serta menyesuaikan diri.

Organisasi yang sehat mampu bekerja dengan dua fokus sekaligus: mengelola kebutuhan hari ini sambil membangun kapasitas untuk hari esok.

Melihat Organisasi sebagai Sebuah Sistem

Salah satu kesalahan dalam organisasi adalah melihat masalah secara terpisah.

Bidang organisasi memiliki masalah sendiri. Bidang kaderisasi memiliki persoalan sendiri. Bidang komunikasi memiliki target sendiri. Bidang pelayanan masyarakat memiliki program sendiri. Cara berpikir seperti ini memang memudahkan pembagian tugas. Tetapi, menjadi problematik apabila membuat setiap unit merasa bahwa persoalannya berdiri sendiri.

Organisasi politik sesungguhnya adalah sebuah sistem. Perubahan pada satu bagian dapat memengaruhi bagian lainnya.

Misalnya, organisasi ingin meningkatkan aktivitas di tingkat struktur bawah. Sekilas, solusinya tampak sederhana: menambah program.

Tetapi jika akar masalahnya ternyata adalah kader yang kelelahan, koordinasi yang buruk, informasi yang terlambat, atau pembagian tanggung jawab yang tidak jelas, menambah program justru dapat memperburuk keadaan.

Demikian pula ketika organisasi ingin memperkuat komunikasi publik. Menambah jumlah konten belum tentu menyelesaikan masalah apabila persoalan sebenarnya adalah tidak adanya pesan strategis yang konsisten.

Richard Rumelt menggunakan analogi chain-link system: apabila sebuah sistem harus bekerja sebagai satu kesatuan, memperkuat beberapa mata rantai saja tidak otomatis memperkuat keseluruhan sistem.

Seorang pemimpin perlu bertanya: “Jika kita mengubah bagian ini, apa dampaknya terhadap bagian lain?” Inilah cara berpikir sistemik.

Dalam pendekatan Bryson, Ackermann, dan Eden, strategy mapping membantu organisasi melihat keterkaitan sebab-akibat yang kompleks. Peta tersebut bukan sekadar gambar, tetapi alat untuk memahami bagaimana satu keputusan berhubungan dengan keputusan lainnya.

Organisasi yang berpikir secara sistemik tidak hanya melihat:

Input → Aktivitas

tetapi juga:

Aktivitas → Output → Outcome → Dampak

Dengan cara pandang ini, sebuah program tidak dinilai hanya dari apakah program tersebut terlaksana, tetapi apakah ia menghasilkan perubahan yang diharapkan.

Membedakan Masalah Strategis dan Operasional

Tidak semua masalah membutuhkan keputusan strategis.

Sebagian besar persoalan sehari-hari justru merupakan persoalan operasional. Misalnya:

  • jadwal rapat belum ditetapkan;
  • undangan belum dikirim;
  • laporan kegiatan belum diselesaikan;
  • dokumentasi belum tersimpan;
  • pembagian tugas belum dibuat;
  • sebuah agenda mengalami keterlambatan teknis.

Masalah seperti itu membutuhkan penyelesaian. Tetapi penyelesaian masalah operasional tidak otomatis berarti organisasi telah menyelesaikan masalah strategis.

Peter Drucker membedakan keputusan taktis dengan keputusan strategis. Keputusan strategis berhubungan dengan pemahaman situasi, perubahan situasi, serta penentuan sumber daya yang diperlukan.

Richard Rumelt juga mengingatkan bahwa daftar tindakan yang tidak saling bertentangan tetapi tidak terkoordinasi bukanlah strategi.

Masalah operasional berorientasi pada efisiensi pelaksanaan. Masalah strategis berorientasi pada arah, pilihan, diagnosis, dan perubahan yang diperlukan. Misalnya, sebuah organisasi memiliki banyak kegiatan tetapi keterlibatan anggota tidak meningkat.

Pertanyaan strategis dapat membawa organisasi meninjau kembali sistem kaderisasi, komunikasi, kepemimpinan, pembagian peran, dan proposisi nilai organisasi bagi anggotanya.

Keduanya penting. Tetapi keduanya tidak sama.

Cause and Effect Thinking: Jangan Berhenti pada Gejala

Berpikir strategis membutuhkan kemampuan melihat hubungan sebab-akibat. Dalam praktik organisasi, kita sering kali terlalu cepat merespons gejala.

Jika kehadiran anggota menurun, kita membuat kegiatan baru. Jika komunikasi tidak efektif, kita menambah konten. Jika koordinasi buruk, kita menambah rapat. Jika target tidak tercapai, kita menambah instruksi.

Semua respons tersebut mungkin benar. Tetapi mungkin juga salah. Mengapa? Karena kita belum tentu memahami akar masalahnya.

Bryson, Ackermann, dan Eden menjelaskan causal mapping sebagai cara untuk memetakan hubungan antara tindakan dan hasil melalui hubungan means-ends.

Secara sederhana: Apa yang dilakukan → menghasilkan apa → mengapa hasil itu penting?

Peter Drucker menyebut pentingnya menemukan critical factor—elemen yang harus diubah terlebih dahulu sebelum perubahan lain dapat terjadi.

Bayangkan sebuah organisasi mengalami rendahnya partisipasi anggota.Kita dapat menggambarkannya:

Partisipasi rendah

Anggota tidak aktif

Program tidak relevan

Anggota tidak memahami kebutuhan organisasi

Komunikasi internal lemah

Tidak ada mekanisme mendengar aspirasi anggota

Diagnosis tersebut tentu masih harus diuji.

Namun contoh itu menunjukkan perbedaan antara merespons gejala dan mencari faktor kritis.

Strategic thinking selalu bertanya: “Jika hanya satu hal yang dapat kita ubah terlebih dahulu, apa yang paling mungkin mengubah keseluruhan situasi?”

Pertanyaan inilah yang membawa organisasi pada leverage point.

Fokus dan Alokasi Sumber Daya

Sumber daya organisasi selalu terbatas. Waktu terbatas. Anggaran terbatas. SDM terbatas. Perhatian pimpinan terbatas. Energi anggota terbatas. Karena itu, organisasi yang ingin melakukan semuanya pada akhirnya berisiko tidak melakukan sesuatu dengan baik.

Richard Rumelt menyebut strategi sebagai “anak kandung kelangkaan”. Karena sumber daya terbatas, strategi menuntut pilihan. Dengan kata lain: Memilih berarti sekaligus bersedia tidak memilih yang lain. Inilah bagian strategi yang sering paling sulit.

Mengatakan “ya” relatif mudah. Mengatakan “tidak” membutuhkan disiplin.

Jim Collins melalui Hedgehog Concept menunjukkan pentingnya konsistensi terhadap lingkaran fokus organisasi dan keberanian menolak peluang yang berada di luar fokus tersebut.

Bryson, Ackermann, dan Eden juga menunjukkan bahwa secara realistis organisasi hanya dapat memusatkan perhatian pada sejumlah kecil strategi utama pada satu waktu.

Karena itu, organisasi politik perlu berani menentukan: Apa 3-5 prioritas utama kita? Bukan 10, bukan 20. Bukan seluruh daftar kebutuhan organisasi.

Prioritas adalah pilihan tentang dimana energi organisasi harus dikonsentrasikan. Selain menyusun to-do list, organisasi juga membutuhkan: stop-doing list. Apa yang harus dihentikan? Apa yang harus dikurangi? Apa yang dapat ditunda? Apa yang tidak lagi relevan?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan tanda organisasi kehilangan semangat. Justru sebaliknya. Ini tanda bahwa organisasi memahami keterbatasan sumber dayanya. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.