Organisasi politik hampir selalu memiliki banyak pekerjaan: rapat, kaderisasi, pelayanan masyarakat, komunikasi, konsolidasi, administrasi, hingga berbagai program kerja. Banyak aktivitas tidak otomatis berarti organisasi memiliki strategi.
Sebuah organisasi dapat sangat sibuk, tetapi belum tentu bergerak menuju tujuan yang jelas.
Strategic planning diperlukan untuk memastikan organisasi tidak sekadar bergerak, tetapi bergerak menuju arah yang telah ditentukan.
Strategic Planning: Bukan Sekadar Membuat Rencana
Strategic planning atau perencanaan strategis adalah proses terstruktur untuk menentukan arah organisasi, memilih prioritas, mengalokasikan sumber daya, dan menentukan tindakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan jangka menengah dan panjang.
Strategi yang baik tidak dimulai dari daftar kegiatan.
Richard Rumelt menjelaskan inti strategi melalui tiga unsur: diagnosis, guiding policy, dan coherent actions. Organisasi harus terlebih dahulu memahami persoalan utama, menentukan pendekatan untuk menghadapinya, kemudian menjalankan serangkaian tindakan yang saling mendukung.
Karena itu, pertanyaan awal strategic planning bukan: “Kegiatan apa yang akan kita lakukan?” Melainkan: “Persoalan apa yang paling penting untuk kita selesaikan?”
Dari diagnosis tersebut barulah organisasi menentukan pilihan strategis.
Strategic Plan dan Operational Plan
Strategic plan dan operational plan memiliki fungsi berbeda.
Strategic plan menjawab pertanyaan: ke mana organisasi akan bergerak dan apa pilihan besarnya? Horizon waktunya umumnya tiga sampai lima tahun.
Sementara operational plan menjawab: apa yang harus dilakukan sekarang agar strategi berjalan? Horizon waktunya lebih pendek, mulai dari tahunan hingga bulanan.
Keduanya harus terhubung: Strategi menentukan arah. Operasi menerjemahkan arah menjadi pekerjaan.
Strategic plan tanpa operational plan akan menjadi dokumen. Sebaliknya, operational plan tanpa strategic plan hanya menghasilkan daftar aktivitas.
Dari Visi Menjadi Sasaran Strategis
Visi memberikan gambaran masa depan, tetapi belum cukup untuk mengelola organisasi. Visi harus diterjemahkan menjadi strategic objectives, yaitu sasaran strategis yang menjelaskan perubahan apa yang harus dicapai.
Dalam organisasi politik, sasaran dapat mencakup:
- penguatan kaderisasi;
- peningkatan kapasitas struktur;
- perbaikan tata kelola;
- peningkatan kualitas pelayanan dan penyerapan aspirasi;
- penguatan komunikasi;
- pengembangan sistem informasi;
- serta peningkatan akuntabilitas organisasi.
Organisasi perlu menghindari sasaran yang terlalu banyak, saling bertentangan, atau sekadar berupa keinginan tanpa jalur tindakan yang jelas.
Strategic Initiatives dan Alokasi Sumber Daya
Setelah sasaran ditetapkan, organisasi harus menentukan strategic initiatives: program perubahan yang secara langsung membantu menutup kesenjangan antara kondisi saat ini dan kondisi yang ingin dicapai.
Tidak semua kegiatan merupakan inisiatif strategis. Sebuah program harus dapat menjawab: “Sasaran strategis mana yang hendak dicapai melalui program ini?” Disinilah alokasi sumber daya menjadi penting. Waktu, anggaran, manusia, dan perhatian pimpinan terbatas. Strategi berarti memilih prioritas.
Karena itu, organisasi perlu berani menentukan: apa yang harus dimulai, dilanjutkan, dikurangi, dan dihentikan?
Anggaran seharusnya mengikuti strategi, bukan strategi yang mengikuti kebiasaan anggaran.
Dari Strategi ke Roadmap
Strategi kemudian diterjemahkan menjadi roadmap, sehingga organisasi mengetahui tahapan perjalanan dari kondisi sekarang menuju tujuan.
Kerangka sederhananya: Vision → Strategic Goals → Strategic Objectives → Strategic Initiatives → Programs → Activities → Outputs → Outcomes → Impact
Setiap aktivitas penting harus memiliki line of sight terhadap tujuan strategis. Program bukan tujuan akhir. Program adalah sarana. Karena itu, keberhasilan tidak cukup diukur dari pertanyaan: “Apakah kegiatan sudah terlaksana?” Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Apa yang berubah karena kegiatan tersebut?”
Strategic Planning sebagai Siklus Belajar
Strategic planning bukan dokumen yang dibuat sekali lalu disimpan. Ia harus menjadi bagian dari management rhythm organisasi.
Siklusnya: Plan → Execute → Measure → Review → Learn → Adapt
Lingkungan dapat berubah. Informasi baru dapat muncul. Asumsi dapat terbukti tidak tepat. Karena itu, organisasi harus mampu menyesuaikan cara mencapai tujuan tanpa kehilangan arah strategisnya.
Pada akhirnya, strategic planning adalah disiplin untuk memastikan bahwa: Organisasi tidak sekadar bergerak, tetapi bergerak menuju tujuan.
Strategi bukan daftar keinginan. Strategi adalah pilihan tentang apa yang penting, apa yang dilakukan, sumber daya yang diberikan, dan bagaimana organisasi mengetahui bahwa pilihannya menghasilkan perubahan. (im)







